Image

A Kiss Make a Trouble – Dramione Story

dramione1Author : Giadore Shin

@AyuWon92

Pairing :

Dramione

(Draco Malfoy vs Hermione Granger)

Length : Ficlet/Drabble 🙂

Genre : Romance, Fantasy

Rating : T

Disclaimer : Dramione belong to JK. Rowling but plot is mine. Please don’t bash but please give me your words.

Warning : Typo(s) beredar. Hanya orang bodoh yang mau plagiat FF abal saya ini karena orang bijak tidak akan pernah menjiplak karya seseorang..

^^

Thank Youu

Happy Reading!!

***

Ginny memandang Hermione dengan kerutan penuh dikeningnya. Hermione yang menyadari itu hanya menghela nafas. Meski enggan dia tetap menoleh pada Ginny Weasley, gadis yang duduk disampingnya. Saat ini mereka tengah menikmati makan siang mereka di Aula Besar tepatnya meja Gryffindor.

“Berhenti menatapku seperti itu, Gin.”

Ginny mengacungkan garpu yang dipegangnya ke arah Hermione. “Lihat, wajahmu tak biasanya berkerut seperti ini.”

Hermione kembali menghela nafas lalu membuang pandangannya pada makanan dihadapannya. Terkadang dia bersyukur memiliki sahabat sepandai gadis Weasley ini namun terkadang saking pintarnya, gadis itu bisa membaca pikirannya melalui tingkahnya dan itu menyebalkan.

“Aku hanya tidak berselera makan.” Hermione meletakkan peralatan makannya lalu menyesap habisjus melon dari pialanya.

“Mau kemana, Mione?” sergah Ginny saat Hermione beranjak dari duduknya.

Hermione menatap Ginny. “Aku lelah dan ingin beristirahat.”

Wajah Ginny semakin menunjukkan rasa penasaran yang tinggi.

“Kau sakit, Mione?”

Hermione menggeleng lalu tersenyum tipis, mencoba meyakinkan sahabatnya, “I’m okay. Tolong bangunkan aku saat jam makan malam. Bye, Ginny.”

Hermione berjalan keluar dari Aula Besar secepat yang ia bisa, meninggalkan Ginny yang masih penasaran.

Ada apa dengannya?”

***

Draco bisa melihat siluet gadis berambut coklat berombak berjalan keluar dari Aula Besar. Dia bisa menebak apa yang sedang dipikirkan gadis Gryffindor yang menjadi musuhnya di Asrama Ketua Murid. Draco menyeriangi ketika pikirannya tentang kejadian tadi malam kembali masuk dalam memori otaknya.

Gryffindor bodoh!

“Are you okay, mate?”

Blaise Zabini menyikut lengan Draco ketika melihat ekspresi aneh di wajah sahabatnya itu.

Draco hanya mengangkat bahunya malas. “Seperti yang kau lihat, Blaise.”

Blaise hanya mengangguk diikuti Draco yang kembali menyesap jus dari piala miliknya.

Draco mendengus saat matanya mendapati sosok pria berambut merah menyala memasuki Aula Besar bersama sahabatnya, pria berambut coklat. Kedua pria itu langsung mengambil tempat di meja Gryffindor.

“Kemana Mione, Gin?”

“Dia baru saja kembali ke Asrama.”

“Apa dia melewatkan makan siangnya?”

Ginny hanya memandang malas pada kakak lelakinya itu. “Kau pikir apa yang dia lakukan di Aula Besar ini jika tidak untuk makan?” ucapnya sedikit kesal melihat kelambatan kerja pikir kakaknya itu.

Pria berambut merah menyala itu mengangguk meski sebenarnya jawaban adik perempuannya tidak memuaskan rasa penasarannya.

“Sudahlah, Ron. Jangan khawatir. Mungkin Hermione kelelahan mengerjakan tugas dari Profesor Peterson.”

Pria berambut coklat yang duduk disamping Ginny mengeluarkan suaranya.

Ron Weasley -nama pria berambut merah menyala itu- mengangguk. “Thanks, Harry,” ucapnya sambil mulai melahap makan siangnya.

***

Draco bisa mendengar obrolan mereka dan hanya mendecih saat mendengar pria berambut merah menyala itu mengkhawatirkan si Nona-Tahu-Segala itu.

Tapi dalam hati dia tertawa mendengar alasan yang diutarakan si Potter tentang gadis itu.

Kelelahan??

Demi Jenggot Merlin, sejak kapan si Nona-Tahu-Segala itu punya waktu untuk berlelah-lelah!

Draco juga merasa beruntung ternyata gadis itu tidak menceritakan kejadian tadi malam pada para sahabat Gryffindornya itu. Oh baiklah, tapi kejadian itu sepenuhnya adalah kesalahan gadis itu dan burung kenari sialannya.

Seorang Malfoy tidak akan terima jika ditindas begitu saja. Tidak, apalagi jika mereka adalah gadis kelahiran Muggle.

Draco masih ingat bagaimana reaksi gadis Gryffindor itu saat dia menghentikan ciumannya. Draco merasa matanya belum bermasalah dan meskipun lampu temaram di Asrama mereka, dia bisa melihat wajah gadis itu…..bersemu.

Pesona Malfoy memang menakjubkan, bukan?

Pria berambut pirang platinum itu tidak menyadari kedua sahabat Slytherinnya saling memandang bingung melihat ekspresi aneh dari sahabatnya itu.

***

Hermione mencoba memejamkan matanya saat pintu Asrama terbuka. Dan dia tak perlu menebak siapa pelakunya.

Pria Slytherin itu memang selalu saja mengganggu waktu istirahatnya.

Dia menarik selimutnya sampai menutupi wajahnya yang tiba-tiba tampak memerah.

Malfoy sialaaaan!!

Dia menggerutu kesal setiap mengingat kejadian tadi malam. Dia tak pernah menyangka pangeran Slytherin itu akan menciumnya.

Demi kepala botak Voldemort..pria Malfoy itu memang brengsek!

Tapi dia juga dengan bodohnya malah membalas perlakuan brengsek pria itu dan hal terburuknya adalah dia…bersemu.

Ini gila!!

“Brengsek!”

“Siapa yang kau maksud brengsek, Granger?!!”

Hermione menyibakan selimutnya saat dia tersadar sudah berteriak kencang. Dan itu tadi sahutan dari Draco.

***

Draco hanya tersenyum jahil mendengar teriakan gadis itu. Dia bisa membayangkan wajah menggemaskan gadis itu saat bersemu.

Tunggu, menggemaskan?

Hahah..gadis musang itu jelas tidak menggemaskan.

Draco memukul-mukul wajahnya. “Seorang Malfoy tidak mungkin memuji gadis musang itu,” gumamnya.

“Awww!!” Draco bengkit dari duduknya lalu menoleh kebelakang sambil mengelus kepalanya yang baru saja terkena pukulan benda asing dan menemukan gadis yang baru saja mampir diotaknya sedang mengacungkan tongkatnya dihadapan wajahnya.

“Kenapa kau memukulku, rambut musang!”

Hermione tampak memicingkan matanya, mencoba mengintimidasi Malfoy dengan tatapannya. “Itu hadiah untukmu, pirang.” Hermione mendekap tangannya didepan dada, bibirnya terlihat menahan senyum saat melihat ekspresi Malfoy yang kesal sambil mengelus kepalanya yang nyeri.

“Kau pikir, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan otak busukmu itu, heh?”

Draco menatap Hermione tajam, tangannya masih mengusap kepalanya pelan. “Dan apa kau pikir itu adalah urusanmu, rambut musang?”

“Kau tak perlu bertanya lagi, Malfoy….” Hermione berjalan mengitari sofa yang di duduki Draco lalu berdiri tepat dihadapan Draco. “….. kejadian malam itu membuatku berniat mengirimmu ke Istana Voldemort. Aku tak menyangka ternyata selama ini seorang Malfoy sedang mengincar gadis kelahiran Muggle.”

Draco melotot mendengar penjelasan Granger yang sangat percaya diri. Oke, dia tak heran jika gadis dihadapannya ini dijuluki Miss-Know-It-All.

“Percaya diri sekali kau, Granger.”

“Cih…lalu apa aku harus mengatakan bahwa kau adalah penyihir terhormat pertama yang mau mencium gadis Muggle?”

Hermione tertawa sinis dan memandang Draco. “Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika teman-teman Slytherinmu tahu tentang ini.”

Draco menggeram kesal. Gadis ini memang selalu bisa membuat denyut darahnya meningkat tinggi.

“Apa kau menganggap itu ciuman, Granger?”

Hermione meneguk ludahnya susah payah saat mata hijau Draco menguncinya. Degup jantungnya menggila saat Draco melangkah pelan ke arahnya. Pertanyaan itu cukup memusingkannya.

“Atau itu adalah ciuman pertama untukmu?” ejek Draco dengan senyum sinisnya membuat Hermione kesal. Namun gadis itu bersyukur saat Draco tidak melanjutkan langkah untuk mendekatinya. Jarak mereka hanya tiga langkah saling berhadapan.

“Jangan sok tahu, Malfoy!”

“Tapi aku benar, Granger. Atau mulai saat ini aku harus memanggilmu, Hermione, mungkin?”

Hermione merasa hatinya beku mendengar Draco untuk pertama kalinya memanggil nama depannya.

Demi Merlin, kenapa jantungku jadi begini!

Dengan keberanian yang ada, Hermione mencoba mengangkat dagunya, menepis rasa gugup yang melandanya. Dia tak boleh kalah oleh pria didepannya ini.

” Aku rasa tidak perlu karena aku membenci kau menyebut namaku seperti itu, Malfoy.”

Draco menyeriangi, dia tahu Hermione gugup. “Benarkah? Bukankah kita sudah berciuman? Jadi aku pikir tidak ada salahnya jika kita melanjutkannya…” Hermione mengerang kesal mendengar kalimat Draco. “…atau mungkin kau bersedia tidur diranjangku?”

“Brengsek kau, Malfoy.” Hermione menatap Draco penuh kebencian saat kalimat itu meluncur dari bibir Pangeran Slytherin itu. Rasa gugup itu berubah menjadi amarah yang meluap. Tangannya mengepal, mencengkram kuat tongkat sihirnya. “Jangan samakan aku dengan gadis-gadis yang pernah tidur diranjangmu, brengsek.”

Draco merasa senang melihat gadis itu mulai kesal, perlahan dia melangkah medekat pada gadis itu dan dia menahan tawanya saat gadis Gryffindor itu malah mundur. “Apa kau keberatan jika aku memang pria brengsek?”

“Berhenti disana, Malfoy atau..”

“Atau apa? Mau mengundang kenari sialan itu lagi, em..?” Draco semakin mendekat dan Hermione kembali menyesap aroma tubuh atletis pria Slytherin itu.

Sial, umpat Hermione dalam hati.

Draco mendorong Hermione, mebuat gadis itu tertidur di sofa ruang tengah mereka.

“Mau apa kau?” Hermione mengerjap saat Draco menunduk untuk mendekatkan wajahnya pada Hermione. Iris hijau itu bertemu dengan iris coklatnya dan sialnya lagi jantung gadis itu berpacu cepat dan dia refleks menutup matanya saat hidung Drcao menyentuh ujung hidungnya.

Draco tersenyum jahil saat melihat Hermione yang tampak gugup dan menutup matanya. Bukannya mencium tapi bibir Draco beralih ke telinga gadis itu dan menghembuskan nafasnya lembut membuat Hermione mengerang pelan lalu berbisik. “Kenapa kau memejamkan matamu, Granger?”

Hermione membuka matanya cepat.

“Apa kau berharap aku menciummu?” ledek Draco sambil terkekeh pelan.

“Kau pervert, Malfoy!”

Dengan kesal Hermione mendorong tubuh Draco dari atas tubuhnya, karena kurang keseimbangan Draco terjatuh bersamaan dengan Hermione yang juga ikut terjungkal dan berakhir diatas tubuh Draco dan Hermione terbelalak saat dia merasa sesuatu yang lembut dan hangat menyatu dibibirnya.

Bibir mereka bertemu. Sama hal-nya dengan Draco yang menatap Hermione dengan mata hijaunya yang membulat. Tubuhnya serasa di aliri listrik ribuan volt.

Tersengat sampai terasa dijantungnya yang ikut berpacu.

Sejenak waktu serasa berhenti berputar.

Dari mereka tak ada yang beranjak untuk melepaskan tautan mereka seolah mereka menikmati posisi mereka masing-masing. Baru saja Malfoy berniat untuk melumat bibir manis Hermione saat sebuah suara menghentikkan aktifitasnya.

“Mione! Ayo, saatnya makan ma…. Mi-mione..ap-apa yang ka-kalian lakukan?”

Draco dan Hermione melepaskan ciuman dadakan mereka dan menoleh kearah jendela, sumber suara dan matanya terbelalak mendapati Ginny Weasley menatap shock di atas sapu terbangnya ke arah mereka. Draco pucat dan terlebih lagi Hermione. “Gin-ginny….”

Baiklah masalah telah menanti.. Heuhhh…

FIN 🙂

Advertisements

25 comments on “A Kiss Make a Trouble – Dramione Story

  1. waaaaaaaaaaaaah suka sekaliiii pasangan ini XD ,kreatif dehh thor *dua jempol* saran dr saya cuma satu kurang panjanh *plakk*

  2. Ok, feelnya sangat amat kena (?)
    Sy juga penggemar HP loh Miss. Shin, dan WOW ga prnh nyangka klo couple ini bakalan di pairing dlm satu ff 😀
    As always, great job Miss Shin ^^

  3. eh, bagus deh ceritanya, ini masih next? oh iya aku cuma mau bilang kalo matanya draco kan bukan ijo tapi kelabu. dan juga kata ‘menyeriangi’ itu maksudnya menyeringai tah? dan itu mereka jadi head boy and head girl ya? terus rambutnya harry kan item bukan coklat. hehe 🙂 maaf banyak omong ._.v tapi ceritanya bagus kok. next ya.. hehe makasih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s