Image

Adorable Love {Sequel}

531587_466899343320728_1507858539_nAuthor : Giadore Shin

@AyuWon92

Cast :

*Giadore Shin

*Marcus Cho

Guest Cast :

*Minami Jung

*Nathan Kim

Genre : Romance

Rate : T

Length : Oneshoot

Disclaimer :

This story is MINE!! I borrow kyuhyun’s english name. This is sequel of Adorable Love.

Please visit my WP in :

https://ayugiadore.wordpress.com

Warning : Please don’t bash and copas this story without permission. And please give your words after you read my story. Be carefull! Typo everywhere..

Gamsahamnida

Happy Reading^^

***

(Backsound : Kim Bo Kyung – Brand New Day)

Baru saja tangan kanan Giadore menutup pintu ruang Biology Labor ketika suara bass pria membuatnya tersentak kaget.

“Morning, dear.”

Giadore memejamkan matanya sejenak; mencoba untuk menahan rasa kesalnya. Matanya menangkap senyum ringan milik pria yang belakangan ini mampir diotaknya.

“Kau mengagetkanku, bodoh,” desis Giadore, menatap kesal kearah Marcus; pria yang malah terkekeh mendengar nada kesal gadis itu.

Marcus menegakkan tubuhnya-setelah sebelumnya bersandar pada dinding samping pintu-lalu menghampiri Giadore, masih dengan senyum ringan dibibirnya.

Giadore memasang wajah waspada melihat senyum-yang menurutnya aneh-mengingat Marcus yang dia kenal jarang menampilkan ekspresi seperti itu dihadapannya.

“Kau tak ingin membalas sapaanku, dear?” Marcus masih mempertahankan senyum itu; membuat Giadore bergidik.

Dear?? Oh ayolah, itu menggelikan!

“Sepertinya otakmu terbentur sesuatu, Tuan Cho.” Giadore menggeleng, lalu berbalik dan melangkah. Lengan kekar Marcus melingkar bebas dibahunya, membuat Giadore menghentikan langkahnya dan menatap kesal pada pria itu.

“Ralat. Bukan otakku tapi hatiku yang terbentur hatimu, Sayang.”

Senyum itu.. Astaga! Bisakah kalian definisikan wajah senyum yang menampilkan unsur mesum, menyebalkan dan sok polos? Hahah..menjijikan!

Well, jantung Giadore cukup menghentak cepat mendengar kalimat itu; kalimat menjijikan yang mustahil dikumandangkan oleh seorang Marcus Cho, tapi bukan Giadore Shin namanya jika gadis itu tidak bisa memainkan ekspresinya.

Dengan sekali hentakkan Giadore menjauhkan lengan Marcus dari bahunya; menatapnya kesal.

Tatapan kesal itu berubah menjadi kaget, tubuhnya menegang saat mata hazel-nya menatap sekeliling mereka; mendapati beberapa pasang mata sedang menatap aneh kearah mereka. Bukan hal baru jika melihat Giadore dan Marcus saling cela, tapi saat ini, kedekatan mereka bisa dikategorikan sebagai hal baru yang mencengangkan.

Marcus menyadari hal itu namun bukan Marcus namanya jika tidak bersikap sok tidak peduli.

Giadore mendongkakan wajahnya untuk menatap Marcus, “Berhenti mengikutiku. Kau tidak lihat mereka memperhatikan kita, hah?” Giadore mendesis geram. Tangan kirinya mencengkram erat buku Sains tebalnya.

“Lalu? Apa masalahnya dengan mereka? Aku berjalan dengan kekasihku, apa itu salah? ” tanya Marcus santai. “Aku rasa tidak,” jawabnya lagi sambil mengedarkan pandangannya; membalas setiap tatapan mahasiswa yang berlalu lalang, tidak menyadari perubahan wajah Giadore yang sudah merah padam. Gadis itu shock dengan pernyataan pria dihadapannya.

“Kau sudah gila, Marcus.” Giadore memandang Marcus tak percaya. “Aku tidak pernah jadi kekasihmu.”

Dengan cepat Giadore meninggalkan Marcus. Lama-lama aku bisa gila, batin Giadore.

“Kau yakin?”

Baru tiga langkah, suara itu kembali menghentikan langkah Giadore. Gadis itu menghembuskan nafasnya sebal.

Pertanyaan bodoh!

Gadis itu memejamkan matanya sejenak; sebelum menolehkan kepalanya kebelakang untuk melihat Marcus. Bibirnya melengkungkan senyum percaya diri, “Absolutely, Mr. Cho!” ucapnya penuh penekanan, lalu kembali melangkah.

“Tentang ciuman itu. Bukankah kau membalasnya, Sayang?”

Bingo!

Marcus tertawa penuh kemenangan. Dia bisa melihat tubuh gadis itu menegang mendengar suaranya yang cukup keras membuat mereka jadi bahan tontonan. Baiklah, dia benci diacuhkan; apalagi oleh gadis itu. So, jangan salahkan dirinya, jika selalu mencari alasan untuk mendapat perhatian dari gadis itu.

Giadore memandang kaku kesekelilingnya. Pipinya memanas mendengar kalimat Marcus-yang dia tahu pria itu sengaja menaikkan oktaf suaranya-barusan. Jantungnya bertalu cepat.

Giadore berbalik cepat dan menatap tajam Marcus yang sedang tertawa bahagia.

‘Marcus Cho, mati kau!’

Tanpa memperdulikan apapun dia melangkah gusar kearah pria itu.

Marcus terkejut saat Giadore menarik tangannya dan memaksanya untuk masuk kedalam ruangan Biology Labor.

Huh, sepertinya ruangan itu akan menjadi ruangan keramat bagi mereka.

***

Tatapan Giadore seperti ingin memangsa sesuatu. Seandainya tatapan bisa membunuh, dia berharap bisa membunuh pria yang bersikap santai dihadapannya saat ini.

“Apa maksud ucapanmu, bodoh?” ucapnya gusar, lebih kepada pernyataan. “Kau tidak lihat bagaimana ekspresi mereka?” lanjutnya, lalu menghembuskan nafas kesal. Masih lekat diotaknya ekspresi kaget teman-teman mereka.

Marcus malah berucap sok polos, “Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya.”

“Sebenarnya apa?!” tanya Giadore tak sabar.

“Membalas ciumanku.” Marcus menatap Giadore sambil tersenyum jahil, “Bukankah kau memang membalasnya?”

Giadore menganga. Jantungnya seperti lepas kontrol. Cairan ditenggorokkannya serasa berubah menjadi batu membuatnya sulit untuk bicara. Dia sudah tidak bisa membayangkan bagaimana warna wajahnya saat ini.

Kau brengsek, Marcus! Rutuknya dalam hati.

Marcus menyeriangi melihat gadis itu bungkam dengan pernyataannya. Marcus mencondongkan wajahnya untuk menatap gadis itu lebih dekat, “Kau tampak manis dengan wajah merah seperti ini, Sayang?”

BRAK!!

Suara pintu yang dibuka dengan kasar membuat Giadore menutup mulutnya yang ingin memaki Marcus. Mereka menoleh bersamaan kearah pintu dan muncul sosok dengan mata yang menatap mereka dengan tajam.

Giadore dan Marcus menegang, mata mereka membulat sempurna. Dengan refleks Marcus menjauhkan diri dari Giadore.

Mulut mereka menggumamkan kata yang sama, “Profesor Choi.”

***

Giadore mencengkaram erat buku Sains tebal yang kini teronggok dipangkuannya. Tengkuknya serasa ingin patah akibat terlalu lama menunduk. Ayolah, siapa yang mau membalas tatapan mengintimidasi milik sosok pria yang sedang duduk dihadapan mereka. Oke, mereka. Dirinya dan Marcus. Pria yang menyebabkannya harus berurusan dengan Profesor killer sejagat kampus.

Berbeda dengan Marcus; pria itu terlihat mulai menguasai kegugupannya meski mata sosok didepannya menatapnya tajam.

Profesor Choi mengetukkan bolpoin hitamnya diatas meja yang memisahkan dirinya dari dua mahasiswanya. Matanya menatap bergantian Marcus dan Giadore. Pandangannya berhenti pada Giadore yang masih menunduk, “Bisa kau jelaskan apa yang kalian lakukan di ruangan itu, Mr. Cho?” ucapnya masih tetap menatap Giadore.

Marcus berdehem pelan; mengerjap bingung. Well, sepertinya dia sudah melupakan satu hal. Ruangan Biology Labor adalah ruangan yang sangat diistimewakan oleh Profesor Choi. Tidak boleh ada yang mengusik ruangan itu jika tidak memiliki kepentingan apapun dan mereka telah melanggar itu, bahkan dua kali.

Dengan keberanian yang dimilikinya, Giadore mengangkat wajahnya, “Kami…” Mulutnya kembali terkatup saat mendapati mata itu sedang menatapnya.

“Aku tidak sedang bertanya padamu, Ms. Shin?” Nada dingin itu kembali membuat Giadore menunduk kaku; menelan ludahnya dengan penuh perjuangan.

Marcus meremas tangannya gugup. Setelah mencoba memikirkan jawaban yang masuk akal, Marcus menatap pria itu dan mengeluarkan suaranya, “Kami….”

***

“Ini semua karenamu, bodoh. Dan alasan macam apa itu tadi, hah?” tanya Giadore lemas. Dia sudah tidak punya tenaga untuk memarahi Marcus.

Mereka sudah keluar dari ruang Profesor Choi setelah Marcus memberikan jawaban yang membuat Giadore ingin membenamkan pria itu ke laut pasifik. Dan hasil dari jawaban itu adalah mereka mendapat tugas untuk mengerjakan laporan Sains diawal batas pengumpulan; itu berarti minggu depan.

Luchifer biadap!!

“Itu jawaban terbaik yang kumiliki, Sayang,” ucap Marcus yang kembali seperti biasa; santai tanpa beban.

“Oh ayolah Marcus, aku sedang tidak bercanda.”

“Aku tahu, Sayang.”

Giadore menatap kesal tingkah pria itu.

“Berhenti memanggilku seperti itu!”

“Aku suka memanggilmu seperti itu…Sayang,” ucap Marcus dengan senyum jahil dibibirnya.

Giadore mendelik kesal menutupi jantungnya yang sejujurnya berdetak kencang, “Tutup mulutmu atau aku akan membunuhmy sekarang juga.” Tersirat nada kegugupan disuara gadis itu. Tanpa membuang waktu, Giadore berjalan meninggalkan Marcus.

Marcus terkekeh pelan melihat semburat merah muda dipipi gadis itu. Dengan santai dia mengikuti langkah gadis itu dengan tangan yang terselip dikantung celananya.

“Bukannya kau sudah tahu cara ‘menutup mulutku’, Sayang… Awww kenapa kau memukulku?!!” Kekehan Marcus berubah menjadi ringisan protes ketika buku tebal Giadore mendarat mulus dikepalanya.

Entah kapan Giadore membalikkan tubuhnya menghadap Marcus.

“Itu cara untuk membuatmu tutup mulut, bodoh!” ucap Giadore sambil menyeriangi, merasa menang kali ini. Lalu kembali melangkah cepat meninggalkan Marcus yang masih mengelus kepalanya,

“Astaga, gadis itu kasar sekali.”

Gerutuan Marcus masih bisa didengar oleh Giadore yang tanpa sadar melengkungkan bibirnya membentuk senyuman manis yang tak terlihat oleh Marcus.

***

Giadore keluar dari kamar mandi dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambut panjangnya. Mulutnya bersenandung kecil. Keningnya berkerut saat mendapati gadis yang menjadi sahabatnya dua tahun terakhir ini sedang memandangnya penuh tanya. Minami Jung, gadis berparas mungil yang ceria bahkan bisa dikategorikan cerewet. Baiklah lupakan sejenak kalimat terakhir barusan. Mereka tinggal diapartement yang sama sejak dua tahun lalu dan mulai bersahabat sejak saat itu. Dan beruntung, ternyata mereka juga masuk difakultas yang sama.

Giadore menghampiri Minami yang tengah duduk ditepi ranjang lalu mengambil posisi yang sama, “Kenapa menatapku seperti itu?”

Minami melipat rapi tangannya didepan dada; memicingkan matanya menatap Giadore dengan selidik, “Kemana saja kau seharian ini?” Wajah Minami mendekat membuat Giadore memundurkan wajahnya dan menghentikan aktifitas tangannya. “Aku tidak melihatmu dikampus.”

Giadore menghembuskan nafasnya lalu mendorong wajah Minami menjauh dari wajahnya,”Aku ada urusan,” ucap Giadore beranjak dari duduknya lalu menggantungkan handuknya dihanger lemarinya.

Minami hanya menghela nafas mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Dengan malas dia turun dari ranjang dan berjalan menuju meja belajar mereka lalu menghidupkan laptopnya. Kemudian membawanya keranjang yang sudah diduduki Giadore.

“Urusan apa sampai membuatmu tidak masuk dikelasnya Profesor Kim?” goda Minami, dia cukup tahu tentang sahabatnya itu yang cukup mengagumi sosok pria bermarga Kim itu.

Giadore hanya menghela nafas.

“Come on, mate! Bukankah selama ini kita selalu berbagi masalah? Kau bisa cerita padaku. Kau tahu pasti, aku selalu siap mendengarkan ocehanmu itu, Adore,” oceh Minami panjang lebar membuat Giadore memutar bola matanya malas. Baiklah sepertinya kalimat terakhir tentang gadis itu harus selalu diingat. Gadis mungil itu memang cerewet.

“Ok..berhentilah mengoceh, Nami. Ya, aku ada urusan dengan si killer itu. Kau tau siapa yang ku maksud.”

“Maksudmu Profesor Andrew Choi?” tanya Minami terkejut. Bagaimana mungkin gadis sekelas Giadore bisa berurusan dengan si dosen killer. “Kau ada masalah apa dengannya?”

Pertanyaan Minami membuat pikiran Giadore melayang pada kejadian itu. Giadore mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kasar lalu menghempaskan tubuhnya keranjang dengan kasar, “Ini semua karena Marcus Cho brengsek itu.”

Mendengar nama Marcus membuat tangan Minami yang sedang asyik bermain diatas mouse berhenti, “Marcus? Astaga! Apa kau tidak jenuh selalu bermasalah dengan pria itu?” Minami kembali melanjutkan kegiatannya tanpa memperdulikan tatapan kesal Giadore, “Bukan aku yang bermasalah tapi dia.”

“Ya..ya..terserah kalian saja. Aku hanya mengkhawatirkan satu hal.”

Giadore mengerutkan keningnya. Cukup pusing dengan kalimat Minami yang menurutnya berbelit-belit. Terdengar helaan nafas dari Minami. Gadis itu mematikan laptopnya lalu meletakkannya dimeja samping ranjang.

“Maksudmu?” Giadore tak bisa menahan pertanyaan itu dikepalanya dan jawaban Minami membuat kepalanya semakin pusing.

“Aku khawatir kalian akan saling jatuh cinta dan menjadi sepasang kekasih. Ya, terdengar klasik tapi itulah cinta; punya ciri khas masing-masing.”

***

Sepulang kuliah, Giadore langsung menuju halte bus. Dengan malas dia menaiki salah satu bus yang akan membawanya kerumah pria itu. Siapa lagi kalau bukan Marcus Cho. Dengan se-enak jidatnya pria itu menyuruh Giadore datang ke apartementnya untuk menyelesaikan tugas mereka dengan alasan pria itu sedang tidak enak badan. Baiklah, memang pria itu tidak masuk kuliah dan itu cukup membuat Giadore sedikit percaya dengan alasannya.. Ingat! Hanya sedikit!

Tak terasa limabelas menit berlalu, bus berhenti didaerah Gangnam. Giadore pun turun lalu mulai berjalan mencari apartment Marcus.

Pria itu menyusahkanku saja, rutuknya dalam hati.

Setelah membaca kembali pesan Marcus yang berisi alamatnya, Giadore memasuki sebuah apartement mewah.

Dengan ragu Giadore memencet bell yang ada di pintu kamar nomor 407.

Pintu terbuka dan memunculkan sosok pria yang wajahnya tampak pucat dengan kaos putih tipis dan celana pendek warna biru. Rambut tebal coklatnya terlihat berantakan menandakan pria itu baru bangun tidur.

Giadore berdehem pelan. Tenggorokannya mendadak tersumbat akibat hentakan dadanya yang bekerja diluar kontrol hanya karena melihat pria itu.

Ayolah Giadore, kau masih waras kan?

Bibir Marcus tersenyum saat Giadore terlihat salah tingkah,”Masuklah.”

Giadore melangkahkan kakinya dengan ragu. Matanya mengitari setiap sudut ruangan apartment Marcus yang terlihat elegan. Tidak heran, Marcus Cho adalah junior tunggal dari Cho’s Diamond Company.

Setelah menutup pintu, Marcus mengikuti langkah gadis itu. Dari belakang, Marcus bisa melihat rambut merah lembayung milik gadis itu yang tergerai indah. Ekspresi polos gadis itu yang jarang dilihatnya. Tanpa sadar Marcus tersenyum namun senyuman itu berganti menjadi rasa gugup saat Giadore berbalik kearahnya. Irisnya terkunci dihazel milik gadis itu.

Jantung Marcus semakin bekerja diluar kontrol saat matanya menangkap ekspresi gadis itu menatapnya polos dan mengerjap pelan.

Demi janggut Voldemort, sejak kapan gadis ini punya ekspresi seimut itu!

Udara serasa makin menipis disekitar Marcus saat mataya melihat Giadore melangkah mendekat padanya, “Kau kenapa, bodoh?”

Sepertinya kata imut tidak cocok untuk gadis seperti dia, batin Marcus sambil menggeleng; tersadar dari lamunannya.

“Duduklah, aku ambil berkasku dulu,” ucap Marcus melewati Giadore yang bingung melihat sikap aneh Marcus yang menghindari tatapannya.

‘Ada apa lagi dengan si bodoh itu.’

***

Giadore menggelengkan kepalanya melihat Marcus yang dengan senyumnya menghampiri penjual tiket bianglala. Bianglala? Ya, Marcus bodoh itu menarik paksa dirinya ke tempat ini. Diapun jadi mendadak bodoh; menerima begitu saja ajakan Marcus. Jangan tanya bagaimana nasib tugas mereka. Sudah jelas terbengkalai. Terkadang dia berpikir Marcus memiliki dua kepribadian yang berbeda. Terkadang bersikap menyebalkan dan kadang kekanak-kanakan; seperti saat ini.

Bibir Giadore tanpa sadar melengkungkan senyuman.

Sepertinya kau mulai tak waras, Giadore!

Marcus menghampiri Giadore dengan dua tiket ditangannya. Senyum dibibir Marcus semakin sempurna saat Giadore membalas senyumnya. Ada rasa hangat dihati Marcus melihat senyum tulus itu.

Giadore mengalihkan wajahnya saat Marcus menatapnya dengan tatapan yang membuat jantungnya berdenyut cepat. Pipinya memanas. Kekehan ringan Marcus terdengar lembut ditelinganya; Giadore menoleh lalu ikut terkekeh.

Marcus menghentikan kekehannya, menatap gadis itu lembut lalu menarik tangan Giadore; menyelipkan jari-jari besarnya diantara dijari-jari mungil Giadore, “Baiklah, sepertinya kencan pertama kita berjalan dengan sukses.” Marcus menatap Giadore yang tersenyum kearahnya.

“Let’s go to date!”

***

Gadis mungil dengan cardigan pink membalut tubuhnya terlihat asyik menatap pemandangan malam disekitar Lotte World. Gadis itu duduk disalah satu bangku sambil memainkan kakinya yang menjuntai. Senyum melekat dibibir pink-nya mengingat kencannya yang menyenangkan. Saat ini dia tengah menunggu sang kekasih yang tengah membelikan kembang gula disalah satu stand yang tak jauh dari tempatnya duduk. Pandangan gadis itu terhenti saat melihat sosok yang familiar diotaknya.

“Giadore….Marcus..” desisnya, saat matanya menangkap siluet tubuh gadis yang menjadi sahabatnya. Dia memicingkan matanya; mencoba mempertajam penglihatannya sampai tak menyadari kehadiran kekasih yang sudah duduk disampingnya dengan dua tangkai kembang gula ditangannya.

“Ini untukmu, dear.”

Pria itu mengernyit melihat tak ada respon dari gadisnya, “Dear??” Percuma, gadis itu masih belum merespon.

“Ehh?” Gadis bernama Minami itu tersentak saat pandangannya terhalangi oleh tangkai kembang gula. Dia menoleh pada kekasihnya yang tampak cemberut,”Kau mengacuhkanku, dear.”

“Maaf Nathan,” sesalnya, “Apa ini untukku?” tanya Minami lalu mengambil setangkai kembang gula dari tangan kekasihnya. “Thank you, dear.” Minami tersenyum dan mengecup pipi Nathan; membuat bibirnya yang tadi cemberut berubah menjadi senyuman manis.

CUP

Minami mengerjap kaget dengan ciuman tiba-tiba Nathan dibibirnya.

“Itu, karena kau sudah mengacuhkanku.”

“Dasar kau ini!”

“Haha..” Nathan tertawa renyah yang diikuti oleh Minami.

Ya, mungkin aku salah orang, batin Minami disela-sela tawanya. Tak mau ambil pusing dengan halusinasinya.

***

Tak terasa matahari sudah berganti bulan, orbit malam mulai tampak memenuhi cakrawala malam namun perubahan waktu tak berubah ekspresi disepasang sejoli yang tengah menghabiskan waktu mereka sambil berpegangan tangan.

Mereka sudah menjelajah seluruh mainan di Lotte World tapi rasa lelah terlihat belum menhampiri mereka. Langkah Giadore terhenti saat mereka melewati mesin penjepit boneka. Dia melepaskan genggaman Marcus lalu menuju mesin itu. Giadore mengelurakan koin yang tersisa dari kantung denimnya lalu memasukkannya pada mesin lalu mulai mencoba mengambil boneka yang menjadi tujuannya ; pororo. Marcus menghampiri gadis itu dan terkekeh saat mendengar gerutuan kesal dari mulut Giadore.

“Ck, kau ini bodoh sekali. Sini, biar aku coba.” Mendengar celaan Marcus , Giadore hanya mencibir dan tetap mengizinkan Marcus untuk mencoba.

Gagal!

Gagal!

Giadore berdecak kesal, “Aku tidak lebih bodoh darimu, Tuan Ch…”

Berhasil!

Ucapan Giadore terhenti ketika Marcus berhasil mendapat boneka pororo itu. Dengan senyum kemenangan Marcus menatap Giadore yang mengalihkan pandangannya; malu-,-

***

“Hei, kenapa jalanmu cepat sekali?”

Giadore tidak mengindahkan teriakan Marcus; malah mempercepat langkahnya saat suara Marcus berderai. Giadore masih kesal dengan kejadian barusan, baiklah sebenarnya bukan kesal tapi….malu. Haisshhh, wajahku!! Rutuknya dalam hati.

Saat ini mereka dalam perjalanan pulang; menuju halte bus. Mengingat Marcus sengaja tidak membawa Lamborgini-nya; ingin lebih lama bersama gadis itu.

“Adoreee!”

kejadiannya begitu cepat, Giadore hanya bisa mematung dipelukkan seseorang. Hampir saja sebuah truck menabraknya jika tubuhnya tidak ditarik pria yang tengah memeluknya sangat erat. Giadore bisa merasakan nafas pria itu memburu ditelinganya. “Kau membuatku takut, bodoh.”

Giadore mengerjap, kesadarannya berangsur kembali. Marcus melepas pelukannya; menatap lega pada gadis itu. Tangannya menangkup pipi dingin gadis itu, “Jangan pernah lakukan itu lagi. Kau mau membuatku cepat mati, hah?”

Giadore bisa menangkap kekhawatiran dari sorot mata Marcus. Iris hijau jade yang entah kapan menjadi sesuatu yang menarik dipandangannnya,”Maaf…” ucapannya terpotong saat bibir tebal Marcus membungkam bibirnya. Rasa hangat mulai menjalar ditubuh gadis itu. Tangannya mencengkram erat bahu Marcus ketika Marcus menarik pinggang gadis itu; menghapus jarak diantara mereka.

Minami benar, aku mencintai pria ini, batinnya.

Marcus melumat bibir gadis itu lembut dan tegas. Memeluk gadisnya posesif seolah tidak akan melepasnya meski sedetik. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada dirinya jika kejadian tadi benar-benar nyata. Rasa takut itu benar-benar terasa nyata dan dia akan menyalahkan dirinya jika terjadi sesuatu yang buruk pada gadisnya.

Ciuman Marcus yang lihai membuat Giadore mulai membalasnya, mereka tidak memperdulikan kondisi dimana mereka berada sekarang; ditepi trotoar. Mereka hanya ingin menyalurkan sesuatu yang terpendam dalam diri mereka. Mecoba jujur dengan perasaan mereka masing-masing.

Marcus melepaskan ciumannya, menatap teduh gadis itu dengan nafas yang masih memburu. Tangannya menyentuh lembut bibir gadis itu dan berucap tulus,

“Berjanjilah, jaga dirimu untukku. Aku mencintaimu.”

Marcus kembali mencium gadis itu. Entah sejak kapan tangan Giadore berpindah ke leher Marcus. Membawa pria itu semakin mendekat. Bibirnya melengkungkan senyum mengingat ucapan Marcus.

“Aku juga mencintaimu, pria bodoh.”

Marcus tersenyum mendengar bisikan Giadore; seolah ada sesuatu yang meledak dihatinya. Mereka menikmati momen itu dan maaf untuk hal-hal yang sejenak sengaja dilupakan.

Baiklah sepertinya tugas dari Profesor Choi bisa menunggu.

***

Bulan terlihat bersinar cerah ditemani untaian bintang. Butiran salju mulai berjatuhan bersamaan dengan angin semilir. Bulir-bulir salju mulai menutupi jalanan dan dedauan hijau.

Sepasang anak manusia berjalan menyusuri trotoar dengan tangan yang saling bertaut. Senyum bahagia terukir dibibir mereka. Tangan bebas gadis itu mencoba menangkap butiran salju yang turun sedang tangan bebas pria itu memegang boneka pororo putih yang tampak tersenyum. Mereka kembali saling menatap dengan senyum yang masih melekat dibibir mereka sambil terus melangkah. Melangkah bersama melewati musim salju dan musim-musim berikutnya yang menunggu mereka dengan senyuman dan cinta yang manis.

‘Aku mencintaimu, Sayang’

‘Aku mencintaimu, bodoh’

END^^

A/N : Baiklah-baiklah.. Aku tahu cerita ini memuakkan. Typo dimana-mana dan feelnya gak dapet.

T.T

Maaf, tulisanku makin lama makin buruk. Entahhlah, akupun bingung gimana untuk lanjutin FF series ku. Maafkan saya author yang payah. Saya nulis sequel ini karena banyak yang request. Jeongmal mianhae jika amat sangat mengecewakan. Saya tidak memaksa readers untuk baca, tapi jika sudah dibaca; mohon untuk kritik dan masukannya. Tapi bukan BASH..

Terimakasih sudah membuka FF ini.

Regards,

Giadore Shin^^

Advertisements

20 comments on “Adorable Love {Sequel}

  1. Seperti biasa ffmu pasti berakhir manis eonni^^ neomu daebak~~
    akhirnya giadore ngaku juga klw dia juga cinta sama marcus kkee~ 😀
    ternyata usaha marcus gak sia-sia 😀

  2. Eeiiii… Mereka tambah manis aja, walopun awalnya giadore sok cuek gitu deh, tapi akhirnya klepek klepek juga sama marcus.. Aduh, dosen choi galak amat ya.. Ehe
    Suka banget waktu giadore nyaria ketabrak truk.. Dan suka semuanya…
    Suka banget deh. Tata bahasanya juga suka.. Like it so much

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s