Image

“Adore, My Yaspis Pearl”

Gambar

 

Author            : Giadore Shin (@ayuWon92)

 

Cast(s)                        :

  • Adore
  • Cho Kyuhyun a.k.a Marcus
  • Lee Sungmin a.k.a Vincent

 

Length            : Ficlet

 

Genre              : AU, Fantasy

 

Rating             : General

Disclaimer      : Cho Kyuhyun and Lee Sungmin belong to themselves but Adore is mine. Stroty is mine. Don”t copas and No Plagiarism!

 

Warning         : Typo(s) everywhere, harap siapkan huruf cadangan. Mohon maaf jika fantasi-nya gagal. Maklum ini kali pertama untuk saya buat genre yang begini. Mohon untuk memberikan komentar berupa kritik dan saran yang membangun untuk saya tapi diharap No BASH!

Gamsahamnida..

 

Happy Reading!! ^^

 

***

Marcus melancarkan serangan balik kearah wanita bergaun perak dihadapannya.

“Octropusious Crow!!”

Kumpulan gurita mulai berterbangan ke arah wanita itu, dengan sigap wanita itu melayang lalu mengangkat tongkat gold dengan bentuk cupid di ujung tongkat itu. “Cromusium Goldenn!”

Kumpulan gurita itu perlahan hancur menjadi debu. Marcus hanya menyeriangi kesal yang dibalas wanita itu. Perlahan dia melangkah berjalan mendekat ke hadapan wanita yang baru saja menapakan kakinya ke tanah.  setelah sebelumnya menyibakkan jubah hijau platinumnya. Adore tampak waspada dengan setiap langkah Marcus. Wanita anggun dengan gaun panjangnya yang berwarna keperakan yang menjuntai ketanah, kulitnya yang putih pucat tampak berkilau efek dari permata yaspis indah yang terdapat terletak di dahinya, rambut panjang ikalnya melayang ringan akibat terpaan angin sore ditepi danau Filizona.

Langkah Marcus terhenti begitu saja saat mata coklat madu Adore menembus retina hijau-nya, bayangan masa lalu mereka mulai menghancurkan konsentrasinya.

 

Flashback

Marcus seorang pangeran dari negeri Casviora, negeri yang terletak disebelah barat danau Filizona. Casviora, negeri yang kaya dengan tumbuhan hijau dan bersahabat dengan  negeri Adorelines, negeri yang kaya dengan madu, maka tak heran jika Caviora indentik dengan warna hijau sedang Adorelines dengan warna perak. Adorelines memiliki putri tunggal yang diberi nama Adore sesuai dengan nama negerinya. Wanita yang anggun lembut dan sesuai dengan kriteria wanita pilihan para pangeran, termasuk Marcus. Singkat cerita, mereka menjalin kasih namun pangeran dari negeri Pravetia, Vincent merusak hubungan keduanya. Kejadiannya pada sore hari di musim semi Marcus mendapati sang kekasih hamper berciuman dengan Vincent dan itu membuat Marcus murka. Adore berusaha menjelaskan kesalahpahaman itu namun Marcus menolak untuk mendengar. Sejak saat itu dia membenci semua wanita yang berasal dari negeri Adorelines termasuk Adore dan berniat memusnahkan mereka.

***

“Marcus….” Suara lembut Adore menyadarkan Marcus dari penglihatan masa lalunya. Marcus membuang pandangannya ke tepi danau yang menampilkan semburat kejinggan efek dari matahati terbenam, mengindari mata yang selalu sulit untuk dilupakannya. “….maafkan aku.” Adore melangkahkan kakinya sedikit ragu mendekati Marcus lalu mengarahkan tangannya menyentuh bahu Marcus.

Marcsu mendesah keras sambil memejamkan matanya. “Aku membencimu. Kau tahu.” Ada segelintir rasa lelah dinada itu.

Adore kembali menjauhkan tangannya dari bahu Marcus. Tangan kirinya mencengkram erat tongkatnya, menyalurkan rasa sakit mendengar kalimat Marcus. Pria yang sampai saat ini masih dicintainya. “Tapi yang aku tahu, aku mencintaimu.”

Marcus mendesis sinis, menatap Adore dengan iris hijaunya. Tersirat luka dan amarah disana. “Jangan pernah temui aku lagi atau aku akan membunuhmu.” Marcus menyibakkan jubah hijaunya kebelakang lalu terbang dengan sayapnya ke arah barat, matahari terbenam.

Pertahanan Adore pun hancur, air matanya luruh melewati pipi pucatnya. Kilauan permata yaspis dari dahinya meredup efek jika sang putri sedang menangis ditambah suasana gelap yang menutupi cakrawala.

Sesuatu yang hangat menyentuh bahunya lantas membuat Adore menghentikan tangisnya lalu menoleh dan mendapati Pangeran dari Pravetia sedang tersenyum dihadapannya. Pria itu terlihat tampan dengan jubah merahnya layaknya pangeran perang. “Berhenti menangis.” Pria itu menghapus jejak-jejak air mata diwajah Adore.

Adore menarik nafas sejanak lalu menepis pelan tangan pria itu dari wajahnya. “Maaf, aku harus pulang.” Adore berbalik dan mengeluarkan sayap peraknya lalu terbang meninggalkan Vincent yang tengah mengeluarkan seriangan sinisnya.

***

“Brengsek!” umpat Marcus saat dirinya terjatuh akibat serangan mantra dari Vincent. Dia mencoba bangkit sambil memegang dadanya yang sedikit nyeri. Dihadapannya Vincent menyeriangi sinis. “Cinta membuatmu menjadi pria lemah dan bodoh. Hahaha…” pria itu tertawa menjijikan lalu berdecak, “…ck, kasihan sekali. Adore tidak pernah sekalipun mencintai pria bodoh sepertimu..AKKKHHH!!” Vincent terpental cukup jauh saat Marcus yang diam-diam melafalkan mantera sihirnya menghasilkan cekungan berwarna hijau yang menyentak tubuh Vincent.

Gantian Marcus yang menyeriangi sinis. Dia membenci ketika pria itu menyebut nama wanita itu. Dengan cepat dia menghampiri Vincent yang masih termegap-megap, menatapnya penuh kebencian.

“Octropusious….”

“Marcus hentikan!!!”

Tangan Marcus yang bersiap melafalkan mantra tertahan diudara ketika suara itu menyerukan namanya dan dia mendapati wanita itu melayang ke arahnya dengan wajah cemas.“Apa yang kau lakukan, hah?”

Marcus hanya membuang pandangannya ketika melihat Adore membantu pria itu berdiri. Kilauan perak tubuh gadsi itu mendomnisai warna disekitar mereka. Adore menatap Marcus yang masih membuang pandangannya.

“Kau tidak perlu membunuhnya jika yang ingin kau lenyapkan adalah aku.”

Marcus menoleh cepat ada Adore dengan tatapan tak percaya namun kemudian dia berdesis, “ Kau bahkan rela mati untuknya.”

“Bukan begitu,” sela Adore cepat.

Marcus menatap Adore dan Vincent bergantian dengan perasaan kacau lalu mengeluarkan sayapnya dan terbang membawa lukanya sendiri .‘Ya, aku pria bodoh dan lemah’

Tanpa memperdulikan teriakan Adore yang membahana di tepi danau Filizona sore itu.

 

***

Adore sepertinya tidak bisa menahan segala kesalahpahamna ini. Dia harus segera mejelaskannya. Tidak peduli Marcus akan mendengarnya nanti atau bahkan mungkin akan membunuhnya, setidakya dia ingin pria itu mengetahui yang sebenarnya. Adore mematut dirinya dicermin kamarnya. Gaun keperakannya tampak indah ditambah dengan kulit pucatnya yang berkilaun efek dari permata yaspis didahinya. Adore menyentuh dahinya. Permata yaspis yang diinginkan oleh semua orang negeri di planet Azonamaid. Permata itu akan berubah menjadi ungu setiap Marcus mencium dahinya dan dengan pasti menambah kekuatan dalam tubuhnya. Tapi semenjak kejadian sore itu, permata yaspis itu kehilangan sinar indahnya.

Kejadian dimana dia sedang berjalan bersama Vincent, pria itu penasaran dengan warna permata yaspis milik Adore dan pria itu berniat mencium dahinya untuk melihat perubahan warnanya meski Adore berusaha menolaknya tapi pria itu memaksa dan akhrinya berhasil mencium dahi Adore namun ternyata permata yaspis itu tak beubah sedikit pun. Permata dengan bentuk prisma kristal warna perak itu tak beralih menjadi warna ungu. Adore terkejut selain karena tindakan frontal pria itu juga karena ciuman pria itu tak memberi efek apapun pada dirinya. Adore hampir tersenyum saat menyadari bahwa permata yaspis itu akan berubah warna jika yang menciumnya adalah seseorang yang dicintainya, namun senyum itu hilang dan matanya terbelalak ketika melihat Marcus sudah berdiri tidak jauh dari hadapan mereka dengan mata yang berubah menjadi hijau pekat. Dia menyadari itu sudah murka dan dengan cepat dia menepis tangan Vincent dari lengannya lalu berlari pada Marcus namun Marcus yang marah dengan cepat menepis tangan Adore yang meraih tangannya lalu menatap Adore yang tengah menangis dengan penuh kebencian.

Adore menyeka air matanya yang kembali menetes mengingat sikap Marcus yang sudah sangat membencinya. Dia berjalan kea rah jendela kamarnya lalu sayap keperakannya muncul dan membawanya terbang menuju tempat yang ingin dijangkaunya saat ini.

***

“Untuk apa kau datang menemuiku?”

Marcus tengah berdiri diatas bukit yang berada di selatan danau Filizona. Semilir angin sore menerpa jubah hijaunya yang indah. Dia sudah bisa merasakan kehadiran Adore dibelakangnya saat ini namun rasa kecewa, amarah dan rindu itu memuncak dalam benaknya membuatnya enggan melihat wanita itu. Dia tak ingin menyesal jika nanti berbalik badan dan tidak menyerang wanita yang sampai saat ini masih dicintainya.

“Marcus, aku mohon kali ini kau mau mendengar penjelasanku.” Adore menarik nafasnya perlahan sambil mengeratkan genggamnya pada tongkat cupidnya mencoba menetralisir rasa gugup dan suasana kaku yang tercipta diantara mereka. “Kejadian itu tak seperti yang kau bayangkan. Pria itu hanya…hanya ingin melihat permata yaspis milikku. Dan aku juga tak tahu kalau dia berniat untuk menciumku.”

Marcus masih tak merespon.

Adore mendesah. “Kau tahu, ciumannya tak memberi efek apapun pada permataku karena aku tak mencintainya. Dan kau tahu ternyata permata ini akan berubah jika sesoerang  yang kucintai yang menciumnya.”

Aroma pohon pinus menyeruak ketika angin sore kembali berhembus. Marcus masih diam, memandang lurus pemandangan danau Filizona dari atas bukit, mencoba mencerna ucapan Adore yang sepertinya membuatnya menyadari satu hal. Perlahan Adore melangkah mendekat pada Marcus namun ketika jaraknya dua langkah lagi sebuah sinar berwarna merah  menghempaskan tubuh perak itu diatas tanah.

“Akhhhh….”

Jeritan Adore membuat Marcus menoleh cepat dan terkejut saat melihat tubuh mungil itu terhempas ke tanah. adore  tak sadarkan diri. Marcus menggeram saat melihat seseorang yang membuat wanitanya pingsan sedang tersenyum sinis dihadapannya. Matanya berubah hijau pekat dan rahangnya mengeras.

“Spectrumious wind!!” Gelembung-gelembung putih dan tebal disertai angina yang cukup kencang mengarah cepat kea rah Vincent – sosok itu.

 

“Unwind clopectrumos.” Gelembung-gelembung itu hancur oleh mantra Vincent dan dengan cepat dia  melayang mendekat pada Marcus dan, “Clopasmos dion!” Sinar laras merah mengarah cepat kearah Marcus dan beruntung Marcus bisa mengelak cepat dan sinar itu berefek pada pohon pinus yang langsung hangus terbakar dibelakangnya.

Pertempuran mereka cukup sengit pangeran Pravetia itu terlihat menguasai pertempuran kali ini. Konsentrasi Marcus pecah saat matanya selalu menoleh pada tubuh mungil yang belum juga sadarkan diri dan tiba-tiba mantra penghancur milik Vincent berupa kilatan cahaya merah cekung menghempaskannya  pada pohon pinus yang langsung roboh seketika menimpa tubuhnya.

Marcus mencoba bangkit dan berusaha untuk menyingkirkan batang pohon itu dari atas tubuhnya. Peluh terlihat bercucuran didahinya dan rasa nyeri di tubuhnya sudah tak berarti lagi. Mata dan pikirannya hanya pada tubuh wanita itu dan sepertinya Vincent menyadarinya. Vincent melangkah mendekat pada tubuh Adore lalu berjongkok, tanganya menarik tengkuk Adore seperti menyandarkan kepala gadis itu pada tangannya. Bibirnya tersenyum sisnis lalu menatap Marcus tajam yang terlihat hampir berhasil menyingkirkan batang pohon itu dari tubuhnya. “Permata yaspis sialan ini tak berguna. Dia bahkan tak mengeluarkan efek apapun saat aku menciumnya. Dan sialnya dia bereaksi hanya jika kau yang menciumnya.”

Marcus sudah berhasil menyingkirkan batang pinus dari tubuhnya.Dia berdiri meski sedikit terhuyung, tangannya mengepal ketika tangan pria itu menyusuri wajah kekasihnya.  Hanya luka lecet tak berarti disekitar pipinya.

“Itu artinya, aku akan menghancurkan permata ini dan tidak akan membiarkan kau menguasai planet Azonomaid ini,” lanjut Vincent.

Ya, permata yaspis itu memiliki kekuatan besar yang akan membuat seseorang yang berhasil mengubahnya menjadi penguasa besar di planet Azonomaid.

Marcus mendesis geram, “Singkirkan tanganmu yang menjijikan itu dari wajahnya, atau aku akan mengirimu ke neraka saat ini juga.”

Pria itu tertawa tajam lantas kembali membarigkan tubuh mungil Adore ditanah kemudian berdiri menatap Marcus sinis.

Pertempuran kembali dimulai dan tanpa mereka sadari Adore mulai sadar. Wanita itu mengerjapkan matanya saat dia merasa sinar-sinar terpancar diberbagai sudut bukit. Dia menyangga tubuhnya dengan siku tanganya. Dan dia sepenuhnya tersadar ketika melihat perkelahian Marcus dan Vincent. Adore mencoba bangkit berdiri dan berlari kea rah Marcus yang baru saja terhempas ke tanah akibat serangan Vincent.

“Marcus..” Marcus menatap sayu pada Adore yang tengah membantunya berdiri.

“Maafkan aku,” ucap Marcus pelan dengan cepat menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya. Menghirup aroma tubuh wanita yang sangat dirindukannya. Adore membalas erat pelukan Marcus. Tubuh berkilau gadis itu seolah ikut menutupi tubuh Marcus yang terlihat lemah.

 

Prok prok prok

Tepuk tangan itu menyadarkan mereka bahwa musuh mereka masih hidup. “Pemandangan yang mengharukan,” ejeknya, lengkap dengan senyuman sinis. “Tapi sepertinya cukup sampai disini saja kemesraan kalian karena aku akan segera melenyapkan kalian berdua.”

Marcus seperti kembali mendapat kekuatannya. “Sebelum itu terjadi, aku pastikan kau sudah menjadi abu. “Octropusious Crow!!”

Gurita-gurita itu mulai menyerang Vincent namun mantra Crowded clopectrumos menghancurkan gurita milik Marcus.

 

***

Adore mencari-cari tongkatnya yang tadi terjatuh saat dia pingsan. Dia tak habis pikir ternyata pria berwajah lembut seperti Vincent bisa memiliki niat sejahat itu padanya. Mata coklat madu milik Adore menangkap sinar perak dari tongkatnya namun sebelum dia berhasil meraih tongkatnya sesuatu menghempaskannya. Adore meringis dan menyadari itu sinar milik Vincent.

“Tongkat ini tak akan pernah kembali padamu, Sayang.”

“Vincent, aku tak mengira kau bisa bertindak sejauh ini,” Adore merasa khawatir melihat tongkatnya berada diatangan pria itu. “Ku mohon kembalikan tongkat milikku.”

Pria itu tertawa sinis, “Kau mau? Ambillah , Sayang.” Pria itu mengulurkan tongkatnya pada Adore.

“Jangan!” Adore menghentikan langkahnya saat Marcus menyentuh tangannya. “Itu jebakan.” Adore bisa mendengar bisikan Marcus.

“Ya sudah kalau kau tidak mau.” Pria itu memaiunkan tongkat itu lalu dengan cepat mengarahkannya pada Adore membuat wanita itu tersentak. Sebuah sinar dari ujung cupid itu mengarah tepat pada dahi Adore, permata yaspis-nya dan seperti aliran listrik yang menyetrum seluruh tubuhnya. Sinar yaspis dan sinar ujung tongkat itu seolah menjadi cahaya penerang di susasna malam yang mencekam.

Namun sebelum tongkat itu mneghisap lebih banyak lagi kekutaan dari permata yaspis itu, Marcus dengan cepat menyikut tangan Vincet dengan jubahnya sehingga membuat tongkat itu jatuh bersamaan dengan tubuh Adore ynag langsung luruh ketanah. Dan Vincent pun terhempas cukup keras pada salah satu pohon pinus.

Cahaya keperakan dari tubuh Adore mulai menghilang dan sinar yaspis dari dahinya meredup. Degup jantung Adore mulai melemah, tenaganya seolah terkuras habis. Melihat itu Marcus berlari panik  ke arah Adore lalu menopang tubuh wanita itu . “Kumohon bertahanlah, Sayang.” Marcus menepuk pipi Adore yang terasa dingin dengan tangannya yang bebas saat melihat mata Adore mulai menutup.” Adore… Adore…” Bibir tebal Marcus mengecup pelan dahi Adore lalu menyambar bibir dingin itu. Melumatnya cepat namun lembut menyalurkan rasa hangat. Tubuh Adore yang tadinya meredup perlahan kembali mengeluarkan sinarnya dan tanpa mereka sadari permata yaspis itu mengeluarkan sinar keungunan yang sangat indah dan ternyata menuntun sang tongkat melayang kearah pemiliknya. Marcus melepaskan ciumannya saat merasa tubuh Adore mulai menghangat. Dia kembali merebahkan Adore lalu tangannya meraih tongkat milik Adore.

***

Vincent terbelalak melihat sinar keunguan itu kembali keluar dari permata yaspis itu, dia panik ketika menyadari sinar itu akan kembali jika Marcus mencium sang pemilik yaspis. Dia mencoba berdiri ketika Marcus melayang ke arahnya namun percikan sinar vertikal dari tongkat yang di pegang Marcus kembali menghempaskan tubuhnya.

Marcus melayang rendah dan tepat berada di hadapan Vincent dan mengarahkan tongkat itu pada dagu pria itu, mengangkatnya sedikit.  “Sudah kukatakan jika kau menyentuhnya maka aku akan mengirimmu ke neraka.”

Vincent bangkit lalu menyingkir dari hadapan Marcus dengan gerakan cepat membuat Marcus sedikit terkejut. Vincent kembali tersenyum sinis, tubuhnya melayang seperti Marcus. “Aku belum berakhir, bodoh. Rasakan ini. Pravectianus clopectrumos!!”

Marcus menghindar gesit dari serangan bertubu-tubi milik Vincent. Suasana malam semakin mencekam pohon-pohon di bukit itu sudah hangus dan tak berbentuk. Marcus menahan serangan Vincent yang berbentuk halilintar dengan tongkat sebagai tamengnya. Vincent terlihat mengerahkan seluruh tenaganya dan Marcus terlihat menemukan setitik kelemahan pria itu. Dengan tangan yang masih menangkis seranganVincent , perlahan dia menggerakan jumbai jubah hijaunya dan Marcus memutarkan tubuhnya dengan sekali tepis sinar halilintar milik Vincent menyerang balik pada pria itu dan membakar tubuh pria itu. Marcus lalu mengarahkan tongkat itu dan,“Finasious Crow!”

Sinar dari ujung tongkat itu menyerap energi dari tubuh Vincent yang berbentuk sinar kemerahan lalu mulai meresap masuk kedalam tongkat cupid dan tubuh itu pun hancur menjadi serpihan bulu-bulu merah yang mulai beterbangan bersama angin malam. Vincent musnah!

Nafas Marcus terlihat memburu, peluh didahinya mengucur cukup deras. Dengan langkah pelan dia berjalan menuju tubuh yang tengah terbaring lemah. Dia berjongkok dan meraih tengkuk Adore. Dia menunduk, kembali menyentuh bibir Adore dengan bibirnya dan melumatnya lembut. Sinar keunguan seolah menutup tubuh keduanya memberi cahaya terang di bukit malam itu. Cahaya bulan dan bintang pun seeperti tersamarkan. Marcus tersenyum tipis merasa kembali bisa merasa lega, kesalahpahaman sekaligus niat buruk Vincent telah berakhir. Kini hanya dia dan cintanya pada Adore, gadis permata yaspis-nya.

 

***

Adore merasa seuatu yang hangat dan lembut bermain dibibirnya. Dia mencoba menangkap siluet wajah seseoranng yang sednag memejamkan mata tepat didepan wajahnya dan Adorepun bias marsakan hebusan nafas segar sosok itu. Bibirnya tersenyum melihat siapa yang tengah menciumnya, desiran kelegaan mengisi hatinya yang sempat kosong. Dengan senang hati dia membalas ciuman sosok itu dan kembali memejamkan matanya.

Adore kembali membuka mata ketika sosok itu melepaskan ciumannya. Iris hijau itu menatapanya lembut dan bibir itu tersenyum manis, senyum yang sempat hilang dari pandangannya. Adore merasa seuatu menggelitik perutya. Rasa itu kembali lagi dan Adore tak bisa menahan senyumnya. Pria yang dicintainya kembali. Marcus-nya.

 

END ^^

 

Advertisements

8 comments on ““Adore, My Yaspis Pearl”

  1. Good cerita berakhirnya sangat manis 🙂
    wlwpun aku gak terlalu mengerti dengan itu yang ada pada jidat adore #ngomongapasih -_-
    tapi aku suka sama ceritanya 😀

  2. Oh! Oh!!! Aku suka banget sama fantasy.. Perjuangan adore buat ngeyakinin marcus emang agak susah.. Tapi emang dasarnya cinta, mau diapain juga tetep cinta.
    Waktu perangnya seru banget! Untung marcus ga kenapa kenapa.. Happy ending.. Cinta deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s