Image

Fallin’ Love by Ribbon

original 

 

Happy Reading

 

***

“Igo.” Ahn Yoo menyodorkan sebuah kantungan biru pada bocah lelaki yang tengah berjongkok dihadapannya. Bocah yang berumur sekitar tigableas tahun itu masih menyembunyikan wajahnya pada kedua lututnya membuat Ahn Yoo mendecak kesal. “Jangan takut. Perampok itu sudah pergi. Kantung ini milikmu, bukan? Ambillah.”

Perlahan bocah lelaki itu mendongkak, wajahnya sedikit pucat dan masih menampakkan gurat ketakutan yang cukup jelas dimata Ahn Yoo. Dengan ragu dia meraih kantungan itu dari tangan Ahn Yoo, “Gamsahamnida.”

Bocah itu berdiri dengan kepala menunduk, antara malu dan kaget ketika menyadari penyelamatnya adalah bocah perempuan seumuran dengan dirinya. Meski menunduk, bocah itu bisa melirik dari ekor matanya wajah gadis itu. Gadis yang mengenakan Hanbok dengan jeogori (baju atasan) berwarna putih dan dipadu chima (rok) berwarna coklat muda. Wajah gadis itu tampak kusam dan terlihat ada noda-noda hitam disana, meski begitu tak menutupi fakta bahwa sebenarnya gadis itu memiliki wajah yang cantik. Rambut panjang hitamnya terlihat sedikit berantakan mungkin akibat aksi gadis itu ketika berhadapan dengan perampok tadi.

Ahn Yoo yang menyadari tatapan bocah itu merasa risih. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” Bocah itu terkejut dam memalingkan wajahnya dari Ahn Yoo.

Ahn Yoo tahu, bocah lelaki dihadapannya saat ini adalah kaum bangsawan. Terlihat dari Hanbok yang dikenakannya; Jeogori dari bahan chatan dengan motif benang sulam berbahan dasar warna biru membalut tubuhnya yang juga dilapisi chargol (jaket) senada dan pajl (celana) biru laut itu membuatnya sangat tampan. Mata Onyx pria itu sedikit tertutupi oleh rambut depannya yang cukup panjang dan hanya diikat oleh ikat kepala berwarna hitam namun tak meredupkan pesona mata itu sehingga menuntut kerja jantung Ahn Yoo diluar kendali. Tak salah jika perampok tadi ingin merampoknya, karena mereka melihat penampilan bocah lelaki itu. Dan itu sudah menjadi budaya yang melekat di masyarakat Korea pada zaman mereka; dimana kasta ditampilkan dari jenis Hanbok yang mereka kenakan.

“Animnida Aggashi. Lee Sungmin imnida.” Bocah lelaki yang ternyata bernama Lee Sungmin itu membungkuku singkat dan tersenyum namun dia kaget saat mendapati gadis itu sudah berjalan meninggalkannya dan mulai menyatu dengan keramaian warga di Pasar Rakyat; tempat mereka berada saat ini.

“Yak Aggashi! Kau belum memberitahu namamu?!! seru Sungmin namun percuma, Ahn Yoo sudah menghilang ditelan keramaian. Sungmin hanya mendesah pelan. Dia menatap kantung biru miliknya yang sudah diselamatkan gadis itu. Bukannya dia tidak bisa berkelahi, hanya saja perampok tadi berjumlah lebih dari satu orang dengan tubuh ynag cukup besar yang membuat nyali Sungmin sedikit menciut; sampai gadis itu datang menolongnya.

Sungmin terkekeh pelan ketika mengingat keberanian gadis itu saat mengejar dan melawan para perampok itu.

Gadis unik, batinnya tersenyum.

Dahinya berlipat saat pandangannya terusik oleh benda yang berkilauan yang tergeletak ditanah; benda yang ternyata pita berbentuk jepitan kupu-kupu berwarna merah muda. Diraihnya pita itu lalu menggenggamnya. Entah untuk alasan apa sehingga bibir tipis sungmin melengkungkan senyuman manis dan pipinya terlihat memerah.

***

Hari ini Pasar Rakyat mengadakan Pesta Lampion. Keadaan pasar terlihat sangat ramai meski malam mulai merambat. Orang-orang sudah siap dengan lampion yang akan diterbangkan malam ini. Acara ini membebaskan siapapun untuk datang. Tak peduli kaum bangsawan maupun rakyat jelata sekalipun.

Ahn Yoo menyusuri jalan menuju pasar dengan menenteng chima berwarna merah bata dengan motif garis-garis hitam yang tersulam indah, jeogori dengan warna putih bersih membalut tubuh rampingnya; hiasan pita hitam panjang tepat di depan dadanya serta sepatu merah bata dengan motif dot-dot hitam menutupi kakinya. Penampilannya sangat cantik dan sangat berbeda di dua hari yang lalu saat dia memakai pakaian dayangnya untuk bermain ke Pasar Rakyat.

Dia berjalan lincah tanpa mempedulikan pandangan aneh dari orang-orang yang melihatnya, mengingat Shin Ahn Yoo termasuk salah satu anak dari orang terpandang didaerahnya, Shin MinChul, ayahnya adalah seorang Kyusungnim di Universitas Hanyang.

Rambut panjang Ahn Yoo yang terjalin indah tampak bergoyang saat dia mempercepat langkahnya, namun ada yang sedikit aneh dari penampilan rambutnya, pita di rambutnya hanya ada sebelah. Dua hari yang lalu sejak kejadian dipasar itu, ia kehilangan pita rambutnya. Ahn Yoo sudah mencari kemana-mana bahkan sampai menangis dan membuat dayang-dayang penjaganya kewalahan namun pita itu tak juga ditemukan. Terdengar berlebihan, namun itu adalah pita kesayangannya, hadiah ulang tahun dari sang ibu yang kini telah tiada.

Dia sempat berpikir pita itu jatuh pada saat dia menolong bocah lelaki yang dia pun tidak ingat namanya.

Menyebalkan! Rutuknya dalam hati.

Raut wajah Ahn Yoo berubah ceria saat matanya menangkap cahaya lampion yang terlihat bersinar cerah dari semua sudut. Malam yang mulai merambat seolah hilang ditelan terangnya cahaya dari ribuan lampion. Kepala gadis itu terangkat saat beberapa lampion mulai diterbangkan; bibirnya tersenyum cerah. Terpaan cahaya lampion membuat wajah cantik gadis itu tampak bersinar dan menambah pesona seorang Shin Ahn Yoo.

***

Sungmin menatap jepitan rambut ditangannya dengan senyum dibibirnya. Dia masih bisa mengingat wajah gadis itu yang terlihat jutek padanya, namun ekspresi itu dan mata hitam itu membuat Sungmin tertarik untuk mengenalnya. Dan selama dua hari ini pula dia sering pergi ke sudut pasat; tempat dia bertemu gadis itu, berharap bisa bertemu lagi dan berkenalan dengan gadis itu namun sepertinya dewi fortuna belum berpihak padanya; dia belum menemukan gadis hatinya itu. Sungmin beranjak dari duduknya setelah memasukkan pita itu kedalam chargol berwarna biru yang dia kenakan malam ini.

Sungmin berjalan memasuki lokasi Pasar Rakyat yang tengah mengadakan Pesta Lampion dengan tangan yang dilipat dibelakang tubuhnya. Malam ini dia kembali berharap bisa bertemu dengan gadis penolongnya. Sungmin sangat tampan mengenakan topi hitamnya dengan tali yang terikat dibawah dagunya mempertegas bentuk wajah orientalnya; jeogori dan pajl biru itu sangat cocok ditubuhnya dipadu dengan lapisan chargol warna biru gelap dengan sulaman abstrak membuat para gadis menatapnya kagum.

Sungmin seolah tak tertarik untuk menanggapinya, matanya sibuk mengitari setiap sudut pasar untuk menemukan sosok yang dicarinya ditengah keramaian warga yang memenuhi lokasi Pasar Rakyat.

Kakinya bejalan menuju tempat dimana dia bertemu dengan gadis itu. Dia tertawa dalam hati, konyol memang tapi dia harus mengakui bahwa dia menyukai gadis itu.

Dunia serasa berhenti berputar saat mata Onyx miliknya berhenti pada satu titik. Titik dimana hati dan pikirannya saat ini berpusat. Lampion pertama yang baru saja diterbangkan seolah tak menarik dimatanya Karena pemandangan yang sangat menarik tengah ditangkap indra penglihatannya.

Baiklah, seperti jantungnya yang langsung menghentak cepat seolah ikut mengartikan semuanya saat ukiran dibibir itu tampak indah bahkan menghipnotis semua panca indranya dan membuatnya hanya menatap objek itu saja. Hanya dia dan objek itu. Kakinya pun bergerak oleh tuntunan hatinya karena otaknya sedang berkelana, mencoba mempercayai pandangannya. Berterimakasih pada Tuhan, ternyata itu nyata dan bukan ilusi semata.

Pandangan terusik saat sesuatu yang berkilau dari rambut gadis itu mengusiknya. Pita dengan bentuk jepitan kupu-kupu disebelah kiri rambut gadis itu yang sama persis dengan pita yang ditemukannya. Sungmin tersenyum tipis. “Chajatta.”

***

Ahn Yoo masih tersenyum saat lampion-lampion lainnya mulai dilepaskan ke langit malam. Cukup untuk membuat hatinya senang dan bibirnya tersenyum setelah berduka hati akibat pitanya yang hilang. Sejenak matanya terpejam. “Siapapun yang menemukan pita itu, aku pasti menyukainya.”

Ahn Yoo membuka matanya dan terkejut saat mendapati Onyx milik lelaki yang ditemuinya dua hari yang lalu sedang menatapnya dalam dengan senyum dibibirnya.

“Kita bertemu lagi, Aggashi.”

Ahn Yoo masih berusaha menyadarkan dirinya dari pesona tampan bocah lelaki itu.

Senyum itu kenapa semakin indah, batinnya.

Ahn Yoo semakin kaget saat Sungmin mengeluarkan sesuatu dari balik turumaginya (mantel) dan menyodorkan padanya.

Itu pita miliknya.

“Aku menemukkannya dua hari yang lalu, saat kau menolongku.”

Melihat Ahn Yoo yang masih terdiam, Sungmin mengulurkan tangannya untuk memasang jepitan itu disisi kanan rambutnya dan kembali tersenyum, “Nah, pitamu sudah sepasang. Kau terlihat semakin cantik, Aggashi.”

Ahn Yoo merasakan getaran didadanya semakin kencang, dia mengalihkan pandangannya dari Sungmin dengan susah payah saat dia merasa aliran darahnya merambat dipipinya.

Oh tidak mungkin kan bocah itu melihatnya bersemu?!

“Gamsahamnida….,” ucapnya sedikit bergetar, kesulitan akibat jantungnya yang tidak bisa bekerjasama. Sungmin tersenyum puas saat mendengar ucapan tulus gadis itu.” Lee Sungmin,” potong Sungmin. “Panggil saja aku Lee Sungmin.”

Ahn Yoo hanya menggagguk pelan dalam tundukkannya. “Gamsahamnida, Lee Sungmin-ssi.”

“Oh ya, boleh aku tahu siapa namamu, Aggashi?”

Ahn Yoo mendongkak dan lagi-lagi jantungnya menghentak keras saat Onyx pria itu mengunci pandangannya, “Shin Ahn Yoo imnida.”

***

Terang cahaya lampion semakin semarak saat ribuan lampion telah diterbangkan. Sungmin berjalan disamping Ahn Yoo dengan bibir yang mempertahankan senyumnya. Hatinya selalu berdesir hangat setiap hazel milik Ahn Yoo membalas tatapannya. Dan selalu terkekeh pelan saat wajah Ahn Yoo menampilkan semburat kemerahan yang terlihat cukup jelas ditengah cahaya lampion. Langkah mereka berhenti di pusat pasar dimana lampion yang diterbangkan tampak menyatu di cakrawala. Sungmin dan Ahn Yoo mendongkak, bibir mereka sama-sama tersenyum manis. Sungmin mengalihkan pandangannya pada Ahn Yoo yang masih asyik melihat lampion, perlahan meski dengan jantung yang berdegup cepat Sungmin meraih tangan kanan Ahn Yoo dan menggenggamnya erat.

***

Ahn Yoo menatap tangan kanannya ketika dia merasa sesuatu yang hangat menggenggamnya. Darahnya berdesir saat mendapati tangan Sungmin menggenggm tangan mungilnya. Dia mendongkak; hazelnya menatap onyx Sungmin dengan pacuan jantung yang sewaktu-waktu bisa meledak. Bibir itu membentuk senyuman yang membuat saraf Ahn Yoo lumpuh.

Oh ayolah, senyum itu begitu keterlaluan.

Ahn Yoo bisa melihat sesuatu dimata itu, sesuatu yang juga mungkin ditunjukkannya pada Sungmin sampai getaran itu terasa dihatinya. Bibirnya tak bisa menahan untuk tidak tersenyum dan tangannya refleks membalas genggaman tangan Sungmin. Dan getaran itu semakin membuat jantungnya akan meledak ketika sebuah kalimat manis yang menggambarkan perasaannya meluncur dari mulut pria itu. “Aku menyukaimu, Ahn Yoo-ssi.”

Ahn Yoo merasa sesuatu meledak dihatinya dan darahnya berdesir merambat ke wajahnya yang dia pun tak berniat untuk membayangkan bentuk wajahnya saat ini. Satu kata. Bahagia. Dia amat sangat bahagia malam ini sehingga kalimat itupun tak bisa lagi untuk ditahannya. “Nado..”

END^^

Advertisements

13 comments on “Fallin’ Love by Ribbon

  1. Waw..
    ENDnya so sweet beudd XD
    masih kecil udah suka-sukaan yaa.. Nakal.. Ntar di blangin ke mamah.. #plakk
    Lanjutkan membuat ffnya eonni^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s