Image

Four Flavours in Four Seasons

Title : Four Flavours in Four Seasons

 

 Gambar

Author : Giadore Shin

@AyuWon92

 

Cast :

*Shin Ahn Yoo

*Lee Sungmin

 

Genre : Fluff

 

Length : Ficlet

 

Rating : T

Disclaimer : This is mine. Lee Sungmin belong to God and themselves but Shin Ahn Yoo belong to me. Please don’t copas and no plagiarism!

 

 Warning : Typo(s) everywhere, harap sediakan huruf cadangan *LOL.

Gamsahamnida^^

 

Happy Reading!!!

 

***

 

Autumn Season

Moon Art College – Seoul City

2011

 

Ahn Yoo menyusuri lorong kampusnya dengan langkah cepat. Dia akan terlambat jika tidak masuk kelas 2 menit lagi.

BRAK!

Benturan itu tak terhindarkan ditikungan lorong. Buku dengan sampul warna hijau yang tadi dipegang gadis itu terjatuh dan tanpa sengaja menyatu dengan tumpukan buku milik sosok yang baru saja menabraknya.

“Mianhae.” Ahn Yoo membungkukan badannya lalu dengan cepat meraih buku sampul hijau itu dan berlalu melewati sosok yang ditabraknya tanpa sempat menatap sosok itu. Sosok yang masih tertegun memandang Ahn Yoo yang sudah menghilang dari pandangannya. Tangannya mulai meraih buku-buku yang terjatuh namun keningnya berkerut ketika sebuah buku dengan sampul hijau daun ada diantara buku miliknya.

***

 

 

Autumn Season

 

Pororo Cafe – Myeongdong – Seoul City

2012 on 01.02PM

Gadis dengan kaos hitamnya tampak santai duduk disalah satu bangku cafe. Dia memilih untuk duduk disebelah utara cafe yang berdinding kaca yang langsung menghubungkannya pada pemandangan jalan raya Myeondong yang sangat ramai disiang ini. Musim gugur membuat suasana jalanan tampak coklat. Pohon-pohon disepanjang trotoar sedang menggugurkan daunnya. Beberapa petugas kebersihan tampak sibuk membersihkan setiap helaian daun kering yang berguguran. Ahn Yoo-nama gadis itu- mengangkat kepalanya memandang pohon-pohon yang ditinggalkan daunnya. Pohon itu tampak gersang, coklat dan kering. Sesuatu yang terlihat buruk namun sebenarnya punya makna tersendiri. Disaat daun-daun meninggalkan sang pohon, saat itulah kita bisa melihat bentuk asli batang pohon itu.

Ahn Yoo meraih sebuah kertas coklat dari dalam tas berwarna cream miliknya. Bibirnya tertarik membaca setiap kata yang tertera disana.

 

“Musim gugur memberikan kesan buram. Kering, coklat dan gersang. Daun yang hijau berubah menjadi layu dan mengering. Namun, apakah kau tahu, dibalik itu semua, daun coklat itu bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi pohon yang menghasilkannya?

 

Meski pohon itu kehilangan daunnya, namun daun itu tetap berguna untuknya.

Kau adalah pohon itu dan aku daunnya. Sekalipun kau tak mengenalku tapi kau berhasil menggugurkan sesuatu dalam diriku dan aku ingin berarti untukmu^^.”

 

-Autumn Season

 

 

***

 

Seorang pelayan menghampiri Ahn Yoo yang masih asyik menatap kertas biru itu.

“Mau pesan sesuatu, Aggashi?”

“Chorcholate IceLatte,” ucap Ahn Yoo tanpa mengalihkan tatapannya dari kertas itu membuat sang waiter tersenyum simpul saat matanya menangkap guratan tinta dari kertas coklat Ahn Yoo yang bertuliskan AUTUMN.

 

***

 

 

 

“Musim Semi. Aku tahu kau pasti suka dengan musim itu. Musim dimana kita bisa melihat tunas-tunas pohon dimusim gugur mulai tumbuh dan menghasilkan daun baru. Warna-warni mengisi setiap permukaan bumi. Tercium harum bunga dan kesegaran daun-daun yang sedang bertumbuh. Meski nanti daun itu akan kembali layu di musim gugur namun biarlah dia menikmati masa bertumbuhnya. Jangan usik dan jangan ganggu. Biarkan dia akan bertumbuh dan menghasilkan sebelum musim gugur tiba.

Rasa ini akan seperti musim semi untukku. Aku akan membiarkannya tumbuh dan menghasilkan sebelum musim gugur merenggut warna dan harum milikku namun sekalipun jika musim gugur tiba, aku berharap embun tetap membasahinya; membiarkannya tetap segar untukmu.”

 

-Spring Season-

 

Kertas kedua yang baru saja dibaca Ahn Yoo dengan warna hijau, kembali membuatnya tersenyum. Guratan tinta itu membuat hatinya merasa bersemi. Kesegaran itu seolah selalu muncul jika mengingat seseorang yang mengiriminya surat disetiap pergantian musim.

Ahn Yoo meraih minumannya dan mendecak sebal ketika menyadari isinya sudah kosong.

Baru saja dia berniat untuk memanggil waiter, saat sebuah suara menginterusinya dan hampir membuatnya terlonjak kaget. Waiter itu sudah berdiri disamping tempat duduk Ahn Yoo, gadis itu cukup mengernyit melihat penampilan sang waiter yang memakai topi hampir menutup seluruh wajahnya.

“Mau pesan lagi, Aggashi?”

Pertanyaan itu menyadarkan Ahn Yoo yang terlihat sedang berpikir. Dia merasa familiar dengan suara ini.

“Aggashi??”

Lemon Tea,” ucapnya cepat, merasa sedikit malu ketika dirinya ketahuan sedang menatap sang waiter; membuat sang waiter tersenyum manis.

“Pesanan segera datang, Aggashi. Permisi.”

Pria itu membungkuk hormat dan berbalik masih dengan wajah menunduk. Bibirnya melengkungan senyum lebar ketika mengingat goresan tinta dikertas hijau milik gadis itu. SPRING.

***

Suasana cafe mulai ramai mengingat matahari mulai merambat turun. Ahn Yoo melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 02.00PM. Tak terasa sudah 1 jam dia berada dalam cafe itu. Beberapa pasang muda-mudi terlihat mesra, membuat Ahn Yoo mengerucutkan bibirnya sebal. Baiklah, dia harus mengakui rasa iriWhy? Kenapa? Apalagi kalau bukan karena kemesraan mereka. Rasanya sudah lewat 1 tahun, Ahn Yoo menjalani sebuah hubungan jarak jauh dengan seseorang yang sedang berada dinegeri super power, tepatnya di Maryland, AS. Sosok yang diingat melalui setiap goresan tinta sang pemilik hati.

Ahn Yoo menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Beruntung tipe kursi cafe ini cukup empuk membuatnya nyaman. Ahn Yoo kembali mengeluarkan kertas ketiga dari tas-nya. Kali ini dengan warna putih.

“Apa kau merasa kedinginan? Biarkan aku menghangatkanmu. Pohon memang sangat terlihat kokoh namun tanpa daun dia akan merasa kedinginan. Daun-daun itu akan menyelimuti sang pohon dengan senang hati. Meski musim dingin terkadang menggugurkan daun, namun daun takkan mudah layu ataupun kering dan tetap berada disekitar sang pohon. Walau kau berada diluar jangkauanku aku tetap berada didekatmu^^.”

 

-Winter Season-

 

Ahn Yoo mengingat kertas itu adalah pemberian dari seseorang itu ditahun akhir mereka sekolah diMoon Art College. Saat itu musim dingin. Ahn Yoo yang memakai jaket maroon tebal terlihat membuka loker miliknya dan cukup terkejut saat sebuah syal wajut merah terjatuh. Dia tersenyum dan mengerti artinya ketika membaca goresan tinta dikertas putih itu. Ahn Yoo meraih cup yang berisi HotChorcholate Capuccino lalu meneguknya. Menyesap rasa manis, hangat dan segar yang langsung mengalir kedalam tubuhnya.

Ahn Yoo tersenyum mengingat kejadian itu. Tanpa sadar dia memanggil sang waiter dan kembali memesan Hot Chorcholate Capuccino.

“Silahkan dinikmati, Aggashi.” Ahn Yoo mengangguk, matanya terpaku ketika mendapati senyum itu. Senyum yang hanya dimiliki oleh pemilik hatinya. Ahn Yoo menghela nafas ketika dia kembali sadar bahwa waiter itu bukan orang yang sama.

Tidak sama.

 

WINTER.

Goresan itu kembali membuat bibir sosok itu tersenyum.

***

 

Summer Season.

 

Moon Art College.

2011

 

Pikiran Ahn Yoo melayang dimasa setahun yang lalu. Perayaan kelulusan mereka di musim panas. Dimasa awal dan akhir penantiannya pada sosok goresan tinta ditiap pergantian musim. Sosok yang ternyata seseorang yang berkharisma dan dia baru menyadari disaat-saat terakhir. Kelulusan tahun ini seluruh mahasiswa/i mendapat nilai terbaik dan banyak penawaran untuk melanjutkan study mereka diluar negeri. Ahn Yoo yang siap dengan seragam wisudanya melangkah menuju lokernya. Tempat dimana dia mendapat goresan tinta manis dari seseorang. Dan dihari terakhir ini diapun masih mengharapkan itu. Dan…

Bibirnya tersenyum ketika mendapati kertas kuning terletak didalam lokernya beserta se-cup Lemon Tea Ice Cream yang sudah hampir mencair.

 

“Musim dingin berakhir dan beralih ke musim panas yang berarti mencapai hari kelulusan kita. Aku bersyukur di empat musim ini mengenalmu, gadis musim gugurku. Musim panas akan selalu membuatmu bersinar, membuatmu hangat akan sinar mentari, membuatmu tampak semakin cerah diantara musim lain. Ditahun kelulusan ini membuatku banyak berpikir, berpikir tentangmu yang berhasil membuatku mendeskripsikan dirimu dimusim panas kali ini. Musim dimana sang pohon akan bernafas dengan tenang, tanpa khawatir daunnya akan berguguran, tanpa takut kesegaran dan harumnya akan lenyap dan tanpa takut kedinginan jika musim dingin merontokkan daunnya yang lebat. Musim panas akan menghilangkan semua rasa khawatir sang pohon dan hanya kelegaan bernafas yang membuat sang pohon seolah tersenyum.

 

Goresan tinta ini adalah ungkapan ku padamu; walau mungkin goresan tinta musim panas ini akan menjadi kalimat penutup karena inilah akhir masa kita untuk empat tahun musim ini,

aku akan membiarkan sang pohon untuk bertumbuh dan aku tak lagi menjadi sepucuk daun yang segar dimusim panas melainkan biarlah aku menjadi daun yang gugur lalu jatuh ketanah, layu lalu menyatu dengan tanah yang akan selalu menutupi akar pohon; memberi kehidupan dan membantunya untuk bernafas. Tanah yang akan menghangatkan sang pohon di setiap musim^^.”

 

-Summer Season-

 

Ahn Yoo tersenyum hangat. Hatinya kembali berdesir setiap membaca goresan tinta diempat musim yang membuatnya menjadi hasil deskripsian oleh sang pemilik tinta.

Tangannya membalikkan kertas itu dan terkejut saat mendapati sebuah ukiran tinta dengan bentuk tulisan yang berbeda disana. Mata hazelnya memicing ingin memperjelas kata dalam ukiran itu.

LEE SU—-

***

 

Autumn Season.

Pororo Cafe – Myeongdong – Seoul City

2012 on 04.04PM

 

Ahn Yoo menyesap Lemon Tea Ice Creamnya. Matanya memandang pemandangan luar cafe yang mulai menampilkan warna kejinggaan; menandakan hari sudah sore. Kertas terakhir itu dibiarkannya terbuka diatas meja seolah dari setiap kata itu dia merasa kehadiran sang pemilik goresan tinta didekatnya.

Semejak dia mengenal sosok itu, Ahn Yoo merasa sebuah kelegaan mendesir di ulu hatinya. Desiran yang selama ini belum pernah menyapanya. Musim panas itu juga menjadi saksi pertemuan mereka untuk pertama kali di Pororo Cafe. Menikmati secangkir minuman disetiap musimnya.

***

Sepasang kaki dengan sepatu kets putih melangkah menghampiri meja seorang gadis. foxynya menangkap wajah yang amat dirindukkanya. Wajah yang berhasil membuatnya berhasil mendeskripsikan arti musim dalam diri gadis itu. Gadis dengan wajah oriental dan hazel lembut yang berhasil mengecohkan hatinya sejak pertama kali bertemu.

Dia bisa melihat senyum gadis itu yang menggambarakan senyum lirih, penuh kerinduan. Sepertinya.

Bolehkan dia berharap seperti itu?

Tentu, karena yang sedang dirindukanya adalah aku, batinnya percaya diri.

Senyum pria itu makin lebar ketika matanya menangkap kertas kuning yang menampilkan goresan tinta dengan tulisan besarSUMMER.

“Sudah selesai bernostalgianya, Aggashi?”

Sosok itu tertawa pelan melihat gerak refleks mata si gadis yang tampak membulat melihat dirinya.

Ahn Yoo yang tadinya masih asyik dengan pikirannya mendongkak saat sebuah suara menginterupsinya dan dunia serasa berhenti berputar ketika matanya menangkap sosok itu. Pemilik goresan tinta; pemilik hatinya. Sosok itu yang tersenyum hangat membuatnya tampak semakin tampan. Lihat! Sosok itu tampak sangat percaya diri dengan tangan yang dilipat didepan dadanya.

Ahn Yoo masih terpaku, kepalanya menggeleng pelan seolah pemandangan itu hanyalah ilusi namun suara itu kembali berderai dan seolah menyadarkannya bahwa itu nyata.

“Lihat! Kau menghabiskan empat gelas minuman. Chorcholate IceLatteLemon TeaHot ChorcholateCapucinno lalu apa itu yang sedang kau pegang, Lemon Tea Ice Cream. Astaga, kelihatannya kau sangat merindukanku, Nona?”

Dengan ragu Ahn Yoo berdiri tanpa merespon pertanyaan dan ocehan panjang lebar sosok itu dan malah mendekat padanya. Ahn Yoo seakan enggan berkedip takut sosok itu akan lenyap dari pandangannya. Ahn Yoo mengarahkan jari telunjuknya untuk menyentuh pipi sosok itu.

Ini nyata, batinnya.

(Backsound : Lady Antebellum – Just a Kiss)

Dengan cepat sosok itu menarik pinggang Ahn Yoo dan mengecup bibir gadis itu penuh kerinduan. Dia bisa merasakan rasa Lemon Tea Ice Cream dari bibir Ahn Yoo. Dia menghentikan ciumannya pada gadis yang dirindukannya diempat musim ini yang tampaknya sudah menyadari kehadirannya.

Ahn Yoo mengerjap; kesadarannya kembali ketika bibir hangat itu menyentuh bibir miliknya. Dia memejamkan matanya sejenak saat bibir itu melumat bibirnya penuh kerinduan dan kembali membuka matanya saat sosok itu melepas ciumannya.

“Aku nyata, chagi.”

“Lee Sungmin…”

Pria yang bernama Lee Sungmin itu cukup kaget ketika Ahn Yoo memelukanya erat. Gadis itu menekan lehernya; membuatnya sedikit membungkuku untuk membalas pelukan hangat sang gadis. Rambut panjang gadis itu terasa lembut ditelapak tangan Sungmin. Bibirnya tak henti melengkungkan senyum.

“Bogoshipo, chagi….”

Ahn Yoo semakin menjinjit dan membenamkan wajahnya pada leher Sungmin. Ahn Yoo bisa merasakan aroma tubuh pria yang sangat dirindukannya. Feromon yang sangat maskulin di indera penciumannya.

“Nadooo..nado bogoshipo-yo, Oppa…”

***

Sungmin terkekeh melihat tingkah gadisnya yang menyembunyikan wajahnya yang memerah didada Sungmin. Pria itu tahu gadisnya malu ketika menyadari mereka berciuman dan berpelukan didalam cafeyang ramai, mengundang senyum geli dan rasa iri melihat kemesraan mereka.

Sungmin mengarahkan tangannya untuk merangkul gadisnya yang memeluknya dari samping.

“Apa kau tak bosan memelukku seperti ini, eum?”

Sungmin mengelus lembut rambut Ahn Yoo lalu mengecupnya pelan. “Aku ingin melihat wajahmu, chagi.”

Ahn Yoo melepaskan pelukannya dengan wajah menunduk yang masih menampakkan semburat merah. Sungmin tersenyum lembut; perlahan tangannya merapikan poni Ahn Yoo yang sedikit berantakan membuat gadis itu menatapnya.

Sungmin mengusap pelan pipi halus Ahn Yoo dan mengecup pipi kanannya,”Aku merindukanmu–”, lalu mengecup pipi kirinya,” –aku juga merindukamu– “, bibirnya kembali mengecup kedua kelopak mata gadis itu,” –ini juga– “, beralih mengecup lama dahi Ahn yoo,” –ini juga–,” dan terakhir dia mengecup singkat bibir pulm gadisnya,” –dan aku sangat merindukanmu.”

Pipi Ahn Yoo kembali memerah dengan perlakuan Sungmin, bibirnya tersenyum manis ketika Sungmin menatapnya dalam. Namun senyum Ahn Yoo berubah menjadi raut wajah bingung saat menyadari pakaian Sungmin adalah pakaian waiter cafe dan dia mulai menyadari sesuatu,” Oppa kau…”

Sungmin tertawa mendengar nada terkejut dari Ahn Yoo. “Kau baru menyadarinya, huh?? Ck..gadisku ini tidak peka ya?” ucap Sungmin sambil mencubit pelan ujung hidung Ahn Yoo; membuat Ahn Yoo mengerucutkan bibirnya.

“Aissh, Oppa!”

Sungmin menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, foxynya menatap gelas-gelas kosong bekas minuman Ahn Yoo dan kertas warna-warni yang memenuhi meja. Ahn Yoo mengalihkan pandangannya dari Sungmin ketika pria itu menatapnya dengan senyum jahil. “Kau masih sering membacanya? Aku pikir kau sudah membuangnya.”

“Tidak mungkin aku membuangnya. Aku…”

Ahn Yoo menoleh cepat dan menyesal dengan kata-kata yang barusan dia ucapkan ketika melihat pria itu tersenyum bangga. “…aku tidak membuangnya karena aku memang suka mengoleksi sesuatu,” ralatnya cepat namun malah membuat Sungmin tertawa geli.

“Ya..ya.. Kau tidak mau tahu dari mana aku menemukan setiap kalimat itu??”

Ahn Yoo mengernyit, “Maksud, Oppa?”

Sungmin menyodorkan sebuah buku bersampul hijau pada Ahn Yoo yang membuat gadis itu membulatkan matanya. “Ini milikmu, kan?”

“Dari mana Oppa….”

“Menemukannya?” sela Sungmin cepat. “Kau ingat musim gugur tahun lalu. Kita bertabrakan ditikungan lorong lalu kau hanya mengucapkan ‘Mianhae’ lalu melewatiku begitu saja. Kau hanya mengambil buku bersampul hijau milikku dan meninggalkan buku ini ditumpukkan bukuku. Kau ingat?” Ahn Yoo mencoba mengingat hal itu. “Aku ingin mengembalikan buku ini tapi ketika aku membaca judul bukunya, aku merasa tertarik dan ternyata buku ini pula yang menginspirasikan aku untuk mengenalmu,” jelas Sungmin dengan senyuman lebar.

“Jadi orang itu adalah Oppa? Haha…aku tak mengira kita dipertemukan karena buku ini.” Ahn Yoo meraih buku itu dari tangan Sungmin lalu mendekapnya. “Aish, aku hampir menangis mencarinya. Gomawo, Oppa,” ucap Ahn Yoo sambil mengecup singkat pipi kanan Sungmin.

“Kau mulai nakal ya??”

“Aishh,,Oppa!!”

Sungmin terkekah melihat bibir merah Ahn Yoo manyun, “Bercanda, chagi,” ucapnya sambil merangkul Ahn Yoo yang duduk disampingnya.

“Musim gugur, musim semi, musim dingin dan musim panas rasanya sangat membosankan tanpa melihatmu. Seperti daun yang tak akan bisa hidup tanpa pohonnya, maka dari itu diakhir musim panas tahun lalu aku memutuskan untuk gugur dan menyatu dengan tanah agar aku bisa berada disekitarmu sampai kapanpun. Saranghae, Shin Ahn Yoo.”

 

Ahn Yoo tersenyum bahagia dalam rangkulan Sungmin sambil mendekap buku yang berjudul “ Four Flavours in Four Seasons”

“Nado, Oppa…”

END^^

Advertisements

8 comments on “Four Flavours in Four Seasons

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s