Image

“Orion Star, Fantasi in Love”

Gambar

 

Author            : Giadore Shin

 

Cast                :

  • Giadore Shin as Adore
  • Cho Kyuhyun as Marcus Orion

 

Length            : Ficlet

 

Genre              : AU, Fantasy

 

Rating             : General

 

Disclaimer      : FF is mine!

 

Warning         : Typos everywhere

 

Gamsahamnida

 

Happy Reading!!

 

***

Bintang itu cahaya yang jauh. Dia hanya ada dalam fantasi-ku saja.

(Adore’s Thinking)

Orbit malam. Meski jauh tapi tetap bersinar terang menembus langit malam. Seperti malam ini, musim dingin kali ini tampak sangat cerah. Cakrawala malam tampak indah dengan sinarnya. Jauh di orbit itu sebuah sinar tampak berkedip-kedip cerah seolah sedang berbicara entah pada siapa.

Di planet bumi ini, tepatnya di belahan bumi Asia, Korea Selatan, Seoul, seorang gadis sedang berjalan sambil menggerutu panjang pendek. Bibir mungilnya mengerucut membuatya tampak imut.

Syal yang membalut lehernya sesekali bergoyang mengikuti terpaan angin musim dingin yang nakal. Beruntung dia mengenakan jaket yang tebal membuat kulit pucatnya tidak terusik oleh dinginya angin malam.

“Bintang jatuh? Oh ayolah…ini Korea bukan negeri dongeng.” Adore –nama gadis itu– sedang sebal mengingat pembicaraan kedua temannya yang mengatakan mereka menemukan bintang jatuh yang bisa mengabulkan semua keinginan mereka.

“Ck, mereka pasti bermimpi.” Adore memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung jaketnya. Lalu menghela nafas dengan mata memandang langit yang tampak gelap mengingat ini hampir tengah malam sambil tetap melangkahkan kakinya perlahan.

Adore menghentikkan langkahnya sejenak dan bibirnya tersenyum, “Hei bintang! Apa benar kau bisa jatuh? Coba turun, aku ingin melihatmu.” Adore terkekeh lalu menggeleng pelan. “ Sepertinya aku mulai tidak waras,” gumamnya pelan, lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Matanya sibuk memandang suasana malam yang gelap dan tampak sepi.

Faktanya Adore  bukan gadis pemberani, hanya saja karena alasan pekerjaannya yang shift-shiftnya mengharuskan gadis bertubuh tinggi itu untuk mulai berani jika pulang larut malam. Adore seorang kasir yang bekerja part time di supermarket di sela-sela waktu kuliahnya.

Keningnya berkerit saat sebuah cahaya meluncur dari langit dan sepertinya terjatuh ke sebuah pinggiran taman kota yang tengah dilewatinya. Dengan rasa penasaran yang tinggi dia mencoba memberanikan diri mendekat ke arah jatuhnya sinar itu. Tangannya semakin ditenggelamkannya didalam kantung jaketnya menetralisir rasa dingin yang semakin bertambah. Matanya merasa sialu saat menangkap cahaya itu semakin cerah menusuk iris coklat madunya. Refleks dia mengarahkan tangannya menghalau sinar terang itu. Dia mngerjap lalu sedikit memicingkan matanya mencoba menangkap siluet sinar kecil itu semakin membesar. “Bin-bintang?”

***

Sinar itu jatuh di pinggiran taman kota. Seolah gaya gravitasi bumi memaksanya untuk jatuh. Perlahan sinar kecil itu semakin membesar dan terang membuat suasana taman yang semula gelap menjadi sangat terang. Semakin lama cahaya itu membentuk menjadi sosok tubuh seseorang. Sosok yang tampak bersinar lengkap dengan jubah putih dan lembut membalut tubuhnya. Adore membelalakan matanya saat melihat sosok itu menjadi seorang pria yang tinggi. Kulitnya tampak seputih salju. Matanya berwarna biru dengan rambut coklat terang yang lebat. Adore menggeleng tak percaya dan tanpa sadar memundurkan langkahnya. “Tidak mungkin. Aku pasti sudah gila,” gumamnya sambil tersenyum bodoh. “Aish..ini semua karena Shafa dan Joongie.” Dia membalikkan badannya lalu mempercepat langkahnya. Tubuhnya tampak bergetar melihat apa yang baru saja terjadi.

Adore membeku saat hawa hangat menyergapnya.

Bukankah sekarang musim dingin?

Perlahan dia mendongakakn kepalanya yang tadi menuduk dan mendapati sosok itu sudah berdiri dihadapannya namun cahaya dari tubuhnya sudah tidak se-menyilaukan tadi.

“Hahahah…aku mulai berhalusinasi lagi.” Adore pun bingung kenapa tawa sumbang itu keluar dari mulutnya. Dia kembali membalikkan tubuhnya namun kembali terhenti saat sosok itu lagi-lagi sudah berdiri dihadapanya. Dan kali ini, Adore sudah tak bisa membayangkan kerja jantungnya yang sepertinya diluar kendali. Antara takut dan takjub. Tangannya yang di dalam jaket mulai berkeringat. Kakinya perlahan mundur. “Si-siapa kau?”

Sosok itu hanya mengerjap tanpa ekspresi. Dan malah memajukan tubuhnya saat melihat Adore memundurkan tubuhnya. Dia meraih pipi Adore dan tersentak saat tangannya merasakan hawa yang berbeda. Dingin. Sedang Adore, dia kembali membeku ditempat saat tangan hangat dan lebar itu menyentuh pipi nya yang dingin. Bahkan Adore serasa lupa untuk berkedip saat iris biru itu menatap dalam hazelnya. Waktu seperti berhenti ditempat sampai saat suara sosok itu bergema dan menyadarkan Aodre. “ Bukankah kau yang memanggilku?” Adore mengerjap mendengar pernyataan membingungkan sosok itu. Sosok itu menjauhkan tubuh dan tangannya dari Adore lalu mengarahkan tangannya ke langit malam. “ Marcus Orion. Bintang malam  yang kau panggil untuk turun.”

“Mwo-ya?!!” Adore membelalak tak percaya. Sosok bernama Marcus itu mengangguk.

Tidak mungkin.

“Apanya yang tidak mungkin?” Adore kembali terkejut saat sosok itu menyuarakan pikirannya. “Ka-kau bisa membaca pikiranku?” desisnya tak percaya. Lagi-lagi Marcus menggangguk. “Aku juga bisa mengabulkan 3 keinginanmu.”

“Nde?!!”

***

Sudah lebih seratus kali Adore mengganti posisi tidurnya. Dan sekarang posisi telungkup pun kurang nyaman dirasakannya. Berkali-kali juga dia menghela nafas frustasi.

Ini gila!

“Kau tidak gila, Nona.”

Adore kembali menghela nafas. “Kau yang membuatku gila.” Adore mendelik kesal pada Marcus yang kembali menjadi bintang. Adore memasukkan Marcus ke dalam botol kaca yang dia temukan dijalan saat Marcus memaksanya untuk menyimpannya.

Adore menghela nafas lalu bangkit duduk di tepi ranjangnya. Memandang botol yang diletakkannya di meja samping tempat tidurnya. Terlihat berpikir dengan tawaran Marcus yang bisa mengabulkan tiga keinginannya. Meski dia masih ragu dengan ucapan pria itu.

Adore mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk kanannya kemudian berdehem pelan. “Kau yakin bisa mengabulkan tiga permintaanku?”

“Katakan apa keinginanmu yang pertama. Aku akan mewujudkannya.”

Tenang Adore, calm down. Pertama kau harus yakin. Siapkan hatimu dan tak perlu ragu. Kau hanya mencoba dan membuktikannya. Oke.

“Ba-baiklah.” Adore kembali menarik nafas sejenak terlihat masih ragu. “Bisakah kau keluar dari botol itu sekarang?”

“Sesuai keinginanmu, aku keluar sekarang juga.”

Adore membelalakan matanya saat cahaya itu menembus tutup botol yang terbuat dari lempengan. Cahaya itu memenuhi kamar apartement mungilnya dan menyilaukan mata, mengharuskan Adore untuk sejenak menghalau sinar itu dengan lengannya. Tak lama kemdian Adore menyingkirkan lengannya dari wajahnya dan benar, pria bernama Marcus itu muncul dihadapannya lengkap dengan senyum kemenangan.

“Apa kau masih meargukanku, Nona?”

Marcus melangkah mendekat pada Adore dan membuatnya terjatuh diranjangnya.

“Ka-kau, mau apa kau?”

Marcus tersenyum setengah, menambah kesan rupawan diwajahnya lalu perlahan menundukkan tubuhnya mendekat pada Adore yang pasti membuat gadis itu gelagapan. Adore merasa udara disekitarnya menipis tajam meski dia bisa merasakan terpaan nafas hangat Marcus didepan wajahnya. “Bagaimana kalau aku menginginkanmu, Nona?”

***

Hari ini Adore berniat untuk menemuai kedua sahabatnya yang telah menyebabkan dia seperti orang stress.

Bintang. Marcus. Pria itu.

Astaga, ini benar-benar membuatku gila!

“Nona, sudah aku katakana bahwa kau tidak gila.”

“Berisik!” bentak Adore cukup keras membuat orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya menatapnya aneh tapi Adore tidak peduli. Bagaimana tidak? Dia membentak sosok yang tak tampak didalam botol yang dimasukkannya kedlaam tas selampangnya.

***

“Menyebalkan.” Rutuk Adore ketika dia tak berhasil menemui sahabat-sahabatnya itu. Dia mendudukan tubuhnya di kursi taman kampus yang tampak lengang sore ini. Dia bisa sedikit bersantai mengingat jadwal libur kerja part timenya hari ini. Adore mengeluarkan botol itu dari tasnya lalu menatap bintang kecil itu. Wajahnya terlihat berpikir dan tak lama kemudian dia tersenyum. “Aku ingin kau membawaku berlibur ke Pulau Jeju saat ini juga.”

“Sesuai keinginanmu, Nona.”

***

Dan disinilah mereka sekarang berada, di pulau Jeju yang sanagt indah. Adore hanya bisa menganga belum mempercayai pandangannya. Matanya seolah tak berkedip melihat panorama Pulau Jeju yang masih tampak alami. Rasanya baru saja dia duduk dibangku taman, tapi sekarang?

Bahkan Adore tidak menyadari Marcus sudah berubah dan berdiri disampingnya dengan senyum tampannya. Adore menoleh ke arah Marcus saat dia merasa sesuatu yang hangat menyentuh tangannya dan mendapati bahwa itu telapak tangan hangat milik Marcus. Adore bisa melihat wajah tampan Marcus dari jarak sedekat ini. Entah sejak kapan Marcus mengganti pakaiannya, sangat berbeda dengan sehari yang lalu saaat Marcus mengenakan jubah putihnya tapi sekarang Marcus bertambah tampan dengan pakaian casualnya.

Sangat tampan.

“Pipimu memerah, Nona?”

Adore membuang pandangannya saat ucapan frontal dari Marcus menyadarkannya dari fantasi gilanya. Tapi ada yang aneh, bukankah seharusnya Marcus bisa membaca pikirannya? Kenapa sekarang tidak?

***

Marcus merasa sulit mnegalihkan pandangan dari wajah lembut milik gadis disampingnya. Sejak malam itu dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Memang ini kali pertamanya dia menginjakkan kaki dibumi itupun karena suara sumbang gadis itu yangmemaksanya turun ke bumi. Kekuatannya pun mulai tampak hilang. Dia sulit untuk membaca pikiran gadis itu. Dia menggeleng pelan, menepis pikiran buruk yang mampir diotaknya. Bintang bukan makhluk hidup. Mereka hanya orbit malam yang bertugas menghias malam hari pada cakrawala. Mereka bukan sosk yang bisa menggunakan perasaan tapi entah mengapa dia sulit menolak gejolak aneh ini dari hatinya. Sesuatu yang membuatnya merasa bergetar dan mendorongnya untuk memilik gadis itu.

***

Setelah merasa puas mengelilingi Pulau Jeju, mulai dari pentai Jeju yang indah dan Taman bunga matahari yang bersemi, saat ini mereka sedang meikmati sajian makan malam disalah satu Restoran di pinggir pantai pulau Jeju. Baiklah sekarang Adore sadar bahwa Marcus memang bisa mnegabulkan apapun permintaannya. Bahkan dia tak menanyakan darimana uang yang diperoleh Marcus untuk mengajaknya makan direstoran yang sepertinya mewah.

Selesai makan malam, Marcus mengajak Adore untuk menikmati pemandangan malam di tepian pantai. Desiran angin malam tampak tak berarti bagi keduanya melihat tautan kedua tangan sepasang sejoli itu yang terlihat erat.

Sepertinya Adore mulai bisa menerima kehadiran Marcuis disekitarnya melihat dia tak menolak setiap Marcus memegang tangannya dan mengajaknya kemanapun. Dia mempercayai sosok pria itu, pria yang entah sejak kapan bisa meraih sesuatu dihatinya, bisa membuatnya nyaman dan merasa terlindungi.

Marcus mendudukan tubuhnya dipasir pantai dan diikuti Adore. Terpaan angin pantai yang dingin mulai merambati permukaan kulit putih Adore lantas membuat bulu-bulu halus ditubuhnya berdiri. Marcus yang menyadari itu meletakkan tangannya di bahu Adore, merangkulnya erat seolah menyalurkan rasa hangat yang dimilikinya. Adore merasa jantungnya  kembali membuat ulah. Bersyukur dia membenamkan wajahnya di dada Marcus yang mungkin saat ini sudah memerah. Gadis itu tersenyum saat merasakan debaran jantung Marcus yang sama sepertinya.

Hening melanda. Tapi berbeda dengan hati mereka yang sedang bergemuruh.

“Nona…”

“Panggil aku Adore.”

Marcus tersnyum mendengarnya, meski Adoire tak bisa melihay senyum itu. “Adore..” ucapanya sambil mengusap lembut rambut gadis itu lalu mengecupnya pelan.

“Ya,” Adore tanpa sadar meletakkan tangannya disekitar pinggang Marcus, memeluk pria itu dari samping.

“Jika kau menyebutkan keinginan terakhirmu, maka itu adalah pertemuan terakhir kita.”

Adore terdiam. Dadanya sesak mendengar kalimat itu. Dengan kesal dia mengangkat kepalanya membuat rangkulan Marcus mengendor. Mata mereka bertemu. “Apa maksudmu?”

Angin malam mengacak rambut mereka. Marcus tersenyum lembut, tangannya menyentuh wajah Adore yang dingin dan mengusapnya lembut membuat Adore melupakn amarahnya dan malah memjamkan matanya merasakan sentuhan itu. “Aku dating untukmu untuk memenuhi tiga permintaanmu…”

Adore kembali membuka matanya.

“…dan jika aku sudah memnuhi permintaanmu yang ketiga maka semua ini akan berakhir.” Marcus menyelipkan helaian rambut Adore ke belakang telinga gadis itu.

“Kalau aku tidak mau bagaimana?” Ada sesuatau yang menyesakkan didadanya, perasaan tidak rela.

Gerakan Marcus terhenti dan pria itu kembali tersenyum lalu menggeleng pelan. “Aku punya batas waktu tiga hari untuk tugas ini.” Perasaan mereka sama, merasakan kegundahan. Marcus kembali menarik gadis itu ke dalam pelukannya mencoba menghirup harum tubuh gadis itu sebanyak mungkin. “Itu berarti besok kau harus memberi tahu permintaanmu yang ketiga.”

***

Adore bangun terlambat mengingat semalam dia habis berpetualang bersama Marcus. Namun sepertinya itu buka alasan mengapa dia terlihat lesu pagi ini. Energinya serasa menipis setiap mengingat ucapan Marcus dan hari ini dia memutuskan untuk tidak kuliah.

Baiklah…tingkat ketidakwarasannya meningkat..

Dia duduk ditepi ranjang sambil menatap bintang kecil itu sejenak. Perlahan dia beranjak dan masuk kedalam kamar mandi untuk menjernihkan pikirannya.

**

Adore tersentak saat Marcus tiba-tiba keluar dari dalam botol dan berjalan menghampiri dirinya yang tadinya sibuk melamun sambil menatap pemandangan sore hari.

“Waktuku sudah hampir habis, katakan apa keinginan terakhirmu.”

Adore menatap Marcus dengan perasaan kacau. Dia merasa ada sesuatu yang meremas dadanya mendengar ucapan Marcus.

Terakhir?

Apakah semua ini harus berakhir?

Marcus menghapus cairan bening dipipi gadis itu yang entah sejak kapan menetes.

“Kau mau tahu apa permintaan terakhirku?”

Marcus menggagguk, bibirnya mencoba tersenyum meski senyum itu terasa lain dimata Adore. “Aku ingin kau tetap disisiku.”

Senyum dibibir Marcus hilang. Dadanya bergemuruh mendengar permintaan aneh gadis itu. Iris birunya menatap dalam pada Adore.

“Aku memintamu jangan pergi,” jelas Adore.

Marcus membuang pandangannya dari ekspresi Adore yang membuatnya sakit. “Maaf, tapi aku tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa?” sela Adore

Marcus kembali menatap Adore. “Kita berbeda.”

“Lalu, apa masalahnya? Aku tahu kau juga memliki perasaan yang sama denganku.”

“Tapi itu tidak mungkin, Adore.” Marcus berjalan memebelaknagi gadis itu. “Karena aku bukan makhluk yang sama sepertimu.” Adore terisak dan Marcus hanya memejamkan mata frustasi mendengar isakan itu.. Dia berbalik cepat dan memeluk gadis itu. “Maafkan aku. Kumohon jangan menangis.” Adore membalas pelukan Marcus, menenggelamkan wajahnya didada Marcus, menumpahkan tangisnya.

Marcus melepaskan pelukanya ketika  tangis Adore mereda. Telapak tanagnnya menyentuh bahu Adore mencoba menatap hazel gadis yang entah sejak kapan terlihat sanagt menarik dimatanya. Tanganya mengusap jejak-jeajk airmata diwajah Adore yang menuntun Adore untuk membalas tatapan Marcus. “Bisa kau katakan sekarang, Adore?”

Adore menghela nafasnya berat, matanya kembali berkaca-kaca. “Apa setelah aku mengucapkan permintaanku kau akan menghilang?”

Marcus mengangguk dengan berat hati. Tangannya mencengkram erat bahu gadis itu. Adore mendongkak mencoba menghalau air matanya yang hendak menetes lalu kembali menatap Marcus. “Cium aku!”

“Apa?!” Marcus terbelalak.

“Aku ingin kau menciumku.”

Marcus mendadak gugup, tubuhnya gemetar. Perasaannya tulus pada gadis itu, namun apa daya, mereka berbeda. Dengan berat hati dia mendekat pada Adore, “Pejamkan matamu dan saat aku menghilang kau akan menganggap semua ini hanya mimpi.”

Air mata Adore menetes saat dia memejamkan matanya. Dan dia mulai meraskaan sesuatu menyentuh bibirnya. Hangat dan lembut. Dia merasakan hatinya berdesir hangat dan kacau. Marcus menciumnya lembut seolah dia sedang manyalurkan rasa rindunya pada kekasihnya. Adore membalas ciuman itu disela-sela airmatanya yang tak mau berhenti menetes. Begitu juga Marcus. Dia memeluk tubuh gadis itu erat. Tak peduli dengan asupan oksigen yang terasa menipis. Menyalurkan segenapbperasaannya yang mungkin akan dibawanya pergi.

Perlahan tubuh Marcus mulai memudar dan lama kelamaan siluet tubuhnya seolah menipis namun sebelum raganya hilang bersama angin, Adore bisa mendengar kalimat terakhir Marcus, “Aku mencintaimu, Adore.”

Adore yang merasa Marcus lenyap mulai membuka matanya dan menatap sekelilingnya dan benar, Mracus sudah tidak ada di sekitarnya. Adore kembali terisak dan luruh ke lantai sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Desiran angin malam mulai merambat lewat celah gorden kamarnya. Langit yang gelap mulai menampakan orbit malam. Dan salaah satunya adalah Marcus Orion yang menatap Adore dari kejauhan.

***

Adore sepertinya mulai kembali terbiasa dengan aktivitasnya  setelah hampir sebulan penuh seperti mayat hidup sehingga membuat kedua sahabatnya  ikut bersedih. Dan hari ini dia mengambil shift sore. Dengan ramah dia melayani para pembeli yang berkunjung di supermarket tempatnya bekerja. Senyumnya kembali tercipta setelah sebulan ini senyum itu hilang.

Jam menunjukkan pukul 9 malam dan itu artinya jam pulangnya sudah tiba. Adore berjalan dengan santai melewati jalan yang membuatnya kembali mengingat pria itu. Dia  menyusuri tepian trotoar dengan pikiran yang melayang entah kemana dan itu membuatnya tak memperhatikan jalanya dan tanpa sadar dia menabrak seseorang dan kantongan milik orang itu terjatuh. Sosok itu ternyata seorang pria yang memakai topi baseball dan sedang memunguti barang-barangnya yang jatuh akibat senggolan itu.

“Mianhae…”ucap Adore membungkuk lantas ikut membantu pria itu memasukkan barang-barangnya ke dalam kantung plastiknya

Pria itu berdiri dan diikuti Adore.

“Mianhae,” ucap Adore lagi.

“Gwenchana-yo Aggashi.”

Adore mendongkak saat mendengar suara yang seperti familiar dipikirannya dan matanya kembalai terbelalak saat sosok yang sanagt dirindukkany sedang beridi dihadapannya.

“Ma-marcus…” desisnya tak percaya.

Sosok itu megernyit mendengar desisan gadis itu namun tak lama kemudian dia tersenyum melihat ekspresi lucu gadis itu. “Cho Kyuhyun imnida.”

 

END^^

Advertisements

8 comments on ““Orion Star, Fantasi in Love”

  1. Huaaaa apa ini? Lagi asyik baca malah END..
    Gantung banget eon, butuh sequel dong eonni.. Tanggung jawab eon -_-
    Kenapa kyuhyun bisa lupa sama adore nya??
    Penasaran tingkat angkut #plak
    daebak eonni ff nyaa.. Feelnya ngena beudd XD
    coba klw cwe itu aku trs yg jadi bintangnya abang ikanku, kyaaa bahagianya.. Wkwk #kambuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s