Image

Beloved Man

389699_388291404546840_90931035_nBeloved Man

Happy Reading^^

***

(Backsound : Lee Hae Ri – Beloved Man)

Musim dingin sedang melanda negara Macau. Manusia berjubah tebal berlalu lalang disetiap sudut kota. Malam hari dengan cuaca diatas 12celsius tak menyudutkan mereka untuk terlelap diranjang yang hangat. Mereka tetap beraktifitas seperti biasa. Kerlap-kerlip lampu malam seolah menyemarakkan aktifitas mereka.

Disepanjang sudut kota, casino-casino dipadati sejumlah orang-orang bonafit yang menghabiskan MOP$ (mata uang Macau) mereka di meja judi. Ya, siapa yang tidak tahu Macau? Las Vegas-nya Asia. Negara dengan tingkat pemasukan dari sektor judi sekitar 65 Trilyun pada tahun 2008. Fantastic!

Hembusan angin yang menambah hawa dingin memaksa Giadore untuk mengeratkan mantel bulunya yang panjang. Mantel warna merah maroon dengan bahan wol terbaik menjadi pilihannya malam ini dan tampak cocok dengan boot coklatnya. Musim dingin membuat Giadore harus selalu menggunakan baju seperti itu. Sejujurnya gadis itu lebih menyukai musim semi. Saat aroma bunga-bunga menusuk indra penciumannya.

Biasanya Giadore memilih untuk sembunyi dibalik selimutnya yang hangat namun berbeda dengan tiga bulan belakangan ini. Bisa dilihat dari senyum yang bertengger dibibirnya yang pink. Warna lipgloss yang dipilihnya yang membuatnya tampak lebih manis.

Terpaan angin nakal sesekali mengacak rambutnya yang terbalut topi rajut berwarna senada dengan bootnya. Kakinya melangkah lincah menuju sebuah tempat yang akan membawanya pada sesuatu yang akan menghangatkan hatinya.

***

Venice Restaurant, Macau

 

10.00pm

Suasana romantis kontras terlihat di sebuah Restaurant mewah. Para pria dengan dasi kupu-kupu di lehernya sibuk melayani para tamu dengan ramah dan gesit. Senyum tak lepas dari bibir mereka. Tak heran jika menu disana bisa menghabiskan 958 MOP$ untuk sekali penyajian.

Disebelah selatan pintu masuk, seorang pria tampan sedang duduk sambil menyesap kopi hangatnya.

Andrew Chilartone, pria berkebangsaan Rusia-Spanyol. Pria kalangan atas yang hidupnya selalu disibukkan dengan sejumput orang-orang yang hanya mementingkan prostuisi bisnis dan bisnis. Well, mengingat sang ayah, Dave Chilartone, diplomat lulusan Princetown Moscow University yang juga pebisnis eksekutif. Tak heran jika banyak wanita yang menginginkan dirinya. Namun sayang, hanya ada satu wanita yang telah mengisi hatinya tiga bulan ini. Pertemuan tak terduga yang membuatnya menemukan sesuatu yang berbeda dalam hidupnya selain bisnis.

“Sudah menunggu lama?”

Suara yang familiar itu membuatnya mendongkak dan mendapati sosok gadis yang ditunggunya sedang tersenyum.

Pria itu menarik sudut bibirnya, “Tidak masalah untuk gadis cantik sepertimu.”

Gadis itu tertawa seraya duduk dihadapan pria itu. “Rayuan kuno,” gumamnya. Hatinya menghangat mendengar suara dan senyum pria itu.

“Mau pesan sesuatu yang hangat?”

Gadis itu mengangguk. Tangannya sibuk melepas mantelnya, menyisakan potongan T-shirt lengan panjang berwarna coklat yang melapisi tubuhnya.

Andrew mengangkat tangannya memanggil waiter, ” Secangkir Coffe Late dan~”

“~dan dua piring Pasta Rusia,” timpal Giadore-gadis itu. Andrew tersenyum lalu kembali mengulangi pesanan mereka. Waiter itu membungkuk dan undur diri.

“Bagaimana kabarmu hari ini, Direktur Chilartone?”

Andrew terkekeh mendengar nada ledekan dari Giadore.

Suara gadis yang dirindukannya selama dua hari ini. Andrew cukup sibuk dengan pekerjaannya, menyadari pria kelahiran Moscow itu adalah seorang Direktur di sebuah perusahaan Ekspor di Macau membuatnya sedikit sulit menghubungi gadis itu.

“Sangat baik, Nona Daphne,” balas Andrew.

Apalagi jika bersamamu, lanjutnya dalam hati. Hatinya merasa hangat melihat senyum yang terukir diwajah Giadore.

“Bagaimana denganmu Nona??”

“Sama sepertimu, baik-baik saja.”

Obrolan mereka terhenti sejenak ketika waitress tiba dan menyajikan menu pesanan mereka.

“Selamat menikmati.”

Waiter itu membungkuk dan pergi setelah sejoli itu mengucapkan terima kasih.

Suapan demi suapan mereka nikmati, obrolan mereka mengalir begitu saja dan diisi oleh tawa hangat mereka. Sehangat suasana hati mereka malam ini.

“Apa kau punya waktu luang minggu ini?”

Giadore membersihkan remah-remah makanan dengan serbet putih yang tersedia lalu menatap Andrew, “Sepertinya begitu. Ada apa?”

Andrew meletakkan gelas berisi coffe ke meja lalu melipat tangan dan meletakannya diatas meja kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya pada Giadore.

“Ayo berkencan.”

***

Pearl River Delta, Guangzhou, Macau

 

on Sunday, at 09.17am

Suasana ramai terlihat dipintu masuk Pearl River Delta. Sungai yang sangat terkenal di Macau. Hari libur memang waktu yang tepat untuk berwisata apalagi musim dingin telah beralih ke musim semi.

Giadore Daphne, gadis berdarah campuran Portugis-Australia terlihat cantik dengan pakaian musim semi yang melekat ditubuh rampingnya. Jeans pendek biru diatas lutut dipadu tank-top hijau mudah yang dibalut cardigan rajutan berwarna hijau lumut yang senada dengan bootnya. Dibahunya tersampir tas kecil yang menjadikan penampilannya tampak santai. Wajah baby facenya membuat setiap orang tak mengira gadis itu sudah berumur 25 tahun.

Dibelakangnya Andrew sibuk memperhatikan gadis yang tengah asyik mengabadikan objeknya dalam kamera Canon ditangannya. Matanya tak lepas dari gadis yang sudah membuat jantungnya bertalu cepat. Baiklah, terdengar menggelikan jika disebut jatuh cinta mengingat umur pria itu hampir mancapai kepala tiga.

Bibirnya ikut tersenyum setiap melihat gadis itu tersenyum melihat hasil gambarnya dan tak bisa menahan tawa gelinya saat gadis itu cemberut melihat hasil buruk gambarnya. Pengunjung wanita disana tidak bisa mengalihkan pandangannya pada pria tampan itu. Pakaian casual sekalipun sangat cocok ditubuh tingginya. Mengingat gaya parlente yang sering ditampilkannya ketika berurusan dengan pekerjaannya dalam dunia bisnis. Andrew bisa melihat itu dari kacamata hitamnya, wanita-wanita yang sedang mencari perhatiannya bahkan ada ang terang-terangan menatapnya kagum.

Oh ayolah, bukan sombong tapi pesona seorang Andrew Chilartone memang tak bisa disembunyikan.

***

Giadore tersentak saat sesuatu yang hangat melingkar dipinggangnya dan mendapati Andrew sudah berdiri tepat disisinya. Darahnya berdesir hangat ketika wajah tampan itu menampilkan senyum mempesonanya. Lesung pipi itu sangat menggoda. Selama mengenal Andrew, ini kali pertama mereka berada dalam jarak sedekat ini.

“Kau mengacuhkanku, Sayang,” ucap Andrew sambil mencolek hidung gadis itu.

Well, Giadore serasa melayang mendengar kalimat itu.

Faktanya mereka bukan sepasang kekasih ya..mungkin belum, sejauh ini mereka hanya sepasang anak manusia yang menjalin komunikasi saat pertemuan di Tapae Airport. Tempat pertama kali mereka bertemu, terlalu panjang untuk diceritakan.

“Aku tidak mengacuhkanmu, Chilartone.” Giadore memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah. Tidak lucu jika dihari yang sangat cerah, wajahnya terlihat memerah. Memalukan!

Hampir saja Giadore menjatuhkan kameranya saat Andrew semakin mengeratkan tangannya dipinggang Giadore. Gadis itu bisa merasakan nafas hangat Andrew menggelitik telinganya, “Kau berkencan denganku bukan dengan kamera itu, Nona.”

Giadore menyesal mengarahkan wajahnya menatap Andrew. Jarak wajah mereka yang sangat dekat membuat Giadore bisa melihat dengan jelas iris hijau jade milik Andrew.

Detakan jantungnya menggila drastis!

Senyum dibibir Andrew memudar saat gadis itu membalas tatapannya. Bulu mata lentik yang membingkai mata bulat gadis itu terlihat sempurna dimatanya. Mata Andrew mengitari lekuk wajah gadis itu. Hidung bangir Giadore yang memperlihatkan jelas wajah Portugisnya. Bibirnya yang polos tanpa apapun cukup untuk membuat Andrew sulit mengalihkan pandangannya dari objek itu. Jantungnya bertalu, ada sesuatu yang bergejolak disana yang dia tidak pernah temukan pada wanita-wanita teman blind date-nya terdahulu. Andrew juga bisa merasakan jantung gadis itu berdetak cepat.

“Sepertinya cuaca semakin cerah.”

Seolah mendapatkan kesadaranya, Andrew mengerjap dan perlahan melepaskan tangannya dari pinggang Giadore setelah sebelumnya berdehem kecil mencoba menetralisir kegugupan yang melandanya. Hal yang sama juga dilakukan Giadore. Gadis itu terlihat salah tingkah. Pipinya kembali memerah.

“Mau berfoto bersama??”

Tersirat nada gugup dikalimat Andrew. Matanya melirik gugup gadis disampingnya.

Giadore mengangguk dan tersenyum gugup. “Kedengarannya menarik.”

Andrew mengambil kamera dari tangan gadis itu dan dengan sigap tangan kanannya merangkul bahu Giadore sedang tangan kirinya terangkat memegang kamera yang mengarah pada mereka.

Andrew memberi aba-aba, ” Satu, dua~”

Klik!

Mereka melihat hasil gambar dan yang langsung membuat Andrew tertawa ketika melihat hasil foto yang menunjukkan ekspresi Giadore yang sedikit tegang dan wajah memerah, “Haha, kenapa dengan wajahmu, Nona??”

Giadore mendelik kesal pada Andrew, “Kau saja yang tidak pandai mengambil gambar. Sini biar aku yang foto.”

Giadore mengarahkan kamera dan mulai tersenyum, Andrew pun memposisikan wajahnya tepat disamping wajah Giadore.

“Satu, dua~”

Klik!

Giadore melongo. Mencoba mencari kesadarannya yang menguap entah kemana.

Demi laut asin! Bibirnya baru saja disentuh ahh..maksudnya dicium oleh bibir Andrew!

Matanya mengerjap, kesadarannya kembali ketika Andrew mengambil kamera dari tangannya. “Yang ini baru bagus,” ucap Andrew dengan senyum manis dibibirnya.

Matanya kembali mengarah pada Giadore yang sepertinya masih bingung dengan kejadian barusan. Pipi merah gadis itu membuat lesung pipi Andrew makin terlihat jelas.

CUP

“Bibirmu manis,” bisik Andrew ditelinga setelah mengecup kilat pipi Giadore yang membuat kesadaran gadis itu pulih seutuhnya.

Andrew tertawa melihat wajah Giadore yang sudah merah padam. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“ANDREW CHILARTONE, APA YANG KAU LAKUKAN ??!!!”

Andrew hanya tertawa bahagia melihat ekpresi gadis itu. Dia berlari menghindari kejaran Giadore. Gadis itu terus mengejar Andrew meninggalkan jejak-jejak langkah mereka di atas pasir. Aksi kejar-kejaran mereka mengundang rasa iri pengunjung Pearl River Delta.

Awalnya Andrew hanya ingin mencium gadis itu dipipi namun apa daya, salahkan gadis itu kenapa terlalu menggoda dimatanya.

***

Matahari hampir terbenam diufuk barat. Setelah lelah seharian menikmati seluruh sudut kotaMacau, Andrew mengajak Giadore untuk menyaksikan sunset dari sebelah barat Pearl River Delta. Sejoli itu mendudukan diri diatas pasir sambil memeluk kedua lutut mereka. Angin pantai menerpa wajah mereka. Tanpa sadar mereka memejamkan mata bersama menikmati semilir angin sore yang sejuk.

“Apa kau pernah jatuh cinta?”

“Entahlah. Aku tidak pernah mengerti tentang cinta.” Mengingat selama 25 tahun hidupnya, Giadore hanya tiga kali menjalin hubungan dengan anak kolega ayahnya yang tentunya karena hubungan bisnis yang diatur oleh orangtua-nya. Meski begitu kedua orangtua-nya, Barcalo Daphne dan Galvao Marien tidak pernah memaksanya untuk menikah dengan pilihan mereka jika Giadore merasa tidak cocok.

“Benarkah?” Andrew terkekeh pelan dengan mata yang masih terpejam. “Kita tidak jauh berbeda. Selama ini aku hanya mencintai pekerjaanku. Sampai aku melupakan hal yang lebih penting dari sebuah kegiatan membosankan itu.” Silau matahari menembus retina mata Andrew ketika dia membuka matanya. Menatap gadis disampingnya yang masih memejamkan mata. Terpaan sinar matahari sore diwajah gadis itu memberi efek pada detak jantung pria itu.

“Setidaknya kau pernah jatuh cinta.”

Perlahan Giadore membuka matanya dan mendapati Andrew sedang menatapnya. Bibir mereka membentuk senyum dengan bersamaan. Ada rasa teduh melihat senyum itu.

(Baksound : Lee Hae Ri – Beloved Man)

Matahari diufuk barat hampir tenggelam. Percikan cahaya ke-orange-an hampir mendonimasi langit kota Macau. Selain disebut Macan Asia kota Macau adalah kota yang punya daya pikat. Terbukti saat sunset yang sangat indah menciptakan suasana romantis secara otomatis. Dan hal itu pun dirasakan oleh semua pasang mata yang ada disepanjang Pearl River Delta termasuk Andrew Chilartone dan Giadore Daphne.

Senyum manis masih menghias bibir mereka ketika matahari mulai meluncur keperaduannya.

Giadore bisa merasakan tangannya sedang digenggam seseorang dan dia cukup pintar untuk menebak siapa yang tengah menggenggam tangan kanannya. Hatinya berdesir hangat. Gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa bahagia yang melanda dirinya.

Andrew semakin tersenyum ketika dia merasa tangan Giadore membalas genggamannya.

“Indah,” ucapnya sambil memandang sisa-sisa sinar matahari yang dipantulkan air sungai itu.

Ada dua makna disana, sunset yang indah atau keindahan cinta yang baru ditemukannya.

“Ya, sangat indah,” sahut Giadore mempertahankan senyumnya.

“Giadore Daphne!”

“Ya, Andrew Chilartone!”

“Aku ingin memberitahumu sesuatu.”

“Apa itu?”

“Aku sedang jatuh cinta.”

“Aku tahu.”

“Benarkah?”

“Ya, jawabannya mungkin bisnis.”

“Hhaha, itu dulu. Sekarang tidak.”

“Lalu?”

“Aku jatuh cinta pada gadis cengeng yang pernah kutemui di Bandara Tapae. Kau tahu saat itu dia menangis hanya karena kehilangan pororonya.”

“Hahah..kenapa kau menyukainya? Bukankah gadis itu terlihat bodoh?”

“Entahlah, mungkin aku sudah tertular sifat bodohnya itu..aww! Kenapa kau menjitakku!”

“Karena kau bodoh!”

“Kau yang membuatku bodoh, Nona!!”

“Maksudmu?”

“Astaga! Ternyata aku memang benar-benar jatuh cinta pada gadis bodoh!”

“Apa kau bila..mmpptt..”

Andrew membungkam bibir Giadore dengan bibirnya, menyesap rasa Cappucino dan Beep Rips yang masih melekat dilidah gadis itu. Posisi duduk mereka yang awalnya menyamping kini berhadapan, Andrew menarik tengkuk Giadore untuk mengeksplore lebih intens. Entah sejak kapan tangan Giadore sudah melingkar dileher Andrew. Tangannya meremas rambut tebal pria itu. Cuaca gelap mulai merayap, riak air sungai pun terdengar jelas. Lampu-lampu pinggir sungai mulai menyala. Memantulkan sinar seolah berkaca melalui air sungai yang jernih.

Sejoli itu seolah tak mempermaslahkan itu, mereka mencoba menikmati pertemuan indah yang menimbulkan

rasa ingin memiliki satu sama lain.

Bahagia yang membuncah dan

Ya teb-ya liub-liu,” bisik Andrew disela-sela ciumannya.

Giadore tersenyum dalam ciumannya, meski dia tidak tahu apa arti kalimat itu tapi dia yakin kalimat itu pasti punya arti yang indah. Seindah perasaannya saat ini.

“Eu te amo.”

Andrew memeluk tubuh gadis itu. Menyalurkan rasa hangat dari tubuhnya. Tidak sulit untuk mengerti arti kalimat gadis itu mengingat Andrew Chilartone adalah lulusan dari OxfordUniversity.

Pasokan oksigen membuat mereka harus mengakhiri ciuman mereka. Nafas mereka memburu dengan dahi yang menempel. Perlahan mereka mulai membuka mata, saling menatap dengan bahasa yang hanya mereka mengerti. Bibir mereka tertarik membentuk senyuman bahagia.

Langit malam Macau menampilkan orbit malam yang indah. Tata surya malam memenuhi cakrawala yang gelap. Bulan sabit yang bersinar cerah seolah ikut merasakan perasaan cinta yang mendera anak manusia. Macau yang istimewa memberi cinta yang istimewa.

(Backsound : Taeyeon ft The One – Like a Star)

END^^

 

NB :

 

* Ya tebya liubliu : I Love You in Russian

 

 

 

*Eu te amo : I Love You in Portugiesse

Advertisements

24 comments on “Beloved Man

  1. Kyaaaaa~
    kesannya buat ff ini daebak neomu daebak cetar membahana~ waw fantastic baby~ #lebaymodeon#
    Giadore emang cocok klw udah di pasangin sama andrew atw marcus.. Hoho #hidungeonniterbang :p

    eonni pernah ke macau yaaa?
    Tw bener tempat-tempatnya,-

    eonni, aku mau nanya.. Itu tadi pas mau end mereka ngomong apa? Bhasa spanyol ? Perancis ? Belanda ? Hihi
    tolong beri tahu, beri donge juga boleh #plak

    ffmu makin dapet aja yaa feelnya 😀
    LANJUTKAN eonni buat ff nyaaa #alapakSBY

    • hahha…udah kyk bigbang ajaj fantastic baby^^

      aisss,,,,,idung onnie udah mancung kagak usah ditarik-tarik,,,saeng 😀

      amin….pengen bgt ke MACAU tp itu masih dalam mimpi saeng T.T
      onni dpet inspi krn nonton BBF..
      tuh negara emg kerennnnn daahhh…^^

      makasih ye udah visit ke mari saeng….
      muachhh…muachhhdaaaa
      *lempar ikan rebus
      LOL

  2. Iyaa dong perkenalkan istrinya tabi oppa sama GD oppa #dilirikdonge

    wah jinja idung eon mancung? Mancungnya klw lagi bhng yaa.. Pan pinochio.. Wkwk #kabur

    saeng doain dehh moga mimpinya ke capai.. Amien #doawithsiwon

    cheonma eonni 😀
    muachhh muachhh muachhhh #kecupdonge :p
    hyaaaa ngapain lemparin ikan rebus? Mending lemparin uang =D

    • hahahah….saeng mau kemanain si ikan rebus…eohh??????
      tabi..oh tabiii…matanya itu bagai elangg… 😀

      amiiinnnn makasih doanyaaa saeng,……. tp klo doa utk jadi pinokio moga-moga ga jadii…
      😀

      muachhh…muachhh lagi aahhhh…
      *tebarsiripikan
      #LOL

  3. Abang nemo maa di simpen di hatiku~ =D
    dan yang pling saeng suka, gayanya kagak macem”.. #maksud

    ahahaha iyaa dehh halmeoni~ *oops

    nahnah sekarang yg di tebar sirip ikan.. Kaya saeng dong
    #tebaruang XD

  4. Annyeong ku reader baru 🙂 …
    Suka sama crta ni sweet bgt..
    Baca ff ni brasa baca novel . Ga ngebosenin “top” deh

  5. OMG!
    Can I fly nowwwww….??? (´⌣`ʃƪ)♡
    Kyaaa… This is too much sweeeettness…
    Ooh, and imagine him as my beloved oppa Andrew Choi, and suddenly, I’m flying! ㅋㅋㅋ oh wait, this guy is absolutely him! Omg…
    How sweet this ff.. *_*
    Love it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s